Rabu, 30 Desember 2015

Konsep Tidur




TIDUR???

 
Pengertian Tidur
Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar di mana persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun atau hilang, dan dapat dibangunkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup (Asmadi, 2008:134). Tidur adalah suatu keadaan relatif tanpa kesadaran yang penuh ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing-masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang berbeda (Tarwanto &Wartonah, 2006 : 100). Tidur dikarakteristikkan dengan aktivitas fisik yang minimal, tingkat kesadaran yang bervariasi, perubahan proses fisiologis tubuh daan penurunan respon terhadap stimulus eksternal (Mubarak, 2007: 255).
Fisiologis Tidur
Aktivitas tidur diatur dan dikontrol oleh dua sistem pada batang otak, yaitu Reticular Activating System (RAS) dan Bulbar Synchronizing Region (BSR).  RAS yang terletak di bagian atas batang otak diyakini memiliki sel-sel khusus yang dapat mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran, memberi stimulasi visual, pendengaran, nyeri, dan sensori raba serta emosi dan proses berfikir ( Mubarak, 2007: 255).
Pada keadaan sadar mengakibatkan neuron-neuron dalam RAS melepaskan katekolamin, misalnya norepineprine. Saat tidur mungkin disebabkan oleh pelepasan serum serotinin dari sel-se spesifik di pons dan batang otak tengah yaitu Bulbar Synchronizing Region (BSR). Bangun dan tidurnya seseorang tergantung dari keseimbangan impuls yang diterima dari pusat otak, reseptor sensori perifer, misalnya bunyi, stimulus cahaya, dan sistem limbiks seperti emosi. Seseorang yang mencoba untuk tidur, mereka menutup matanya dan berusaha dalam posisi rileks. Jika ruangan gelap dan tenang aktivitas RAS menurun, pada saat itu BSR mengeluarkan serum serotinin (Tarwanto &Wartonah, 2006 : 100).
Tahapan Tidur
Pada hakekatnya tidur dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori yaitu tidur dengan gerakan bola mata cepat (Rapid Eye Movement-REM) atau biasa disebut tidur paradoks, dan tidur dengan gerakan bola mata lambat (Non-Rapid Eye Movement-NREM) atau disebut dengan tidur geelombang lambat :
1.      Tidur NREM
Tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam. Pada tidur NREM gelombang otak lebih lambat dibandingkan pada orang yang sadar atau tidak tidur. Tanda-tanda tidur NREM antara lain: mimpi berkurang, keadaan istirahat, tekanan darah turun, kecepatan pernapasan turun, metabolisme turun, dan gerakan bola mata lambat. Tidur NREM memiliki empat tahap sebagai berikut :
a.       Tahap 1
Tahap I ini merupakan tahap transisi di mana seseorang beralih dari sadar menjadi tidur. Pada tahap ini ditandai dengan seseorang cenderung rileks, masih sadar dengan lingkungannya. Seseorang yang tidur pada tahap I ini dapat dibangunkan dengan mudah. Normalnya, tahap ini berlangsung beberapa menit dan merupakan 5% dari total tidur (Mubarak, 2007 : 256).
b.      Tahap II
Individu masuk pada tahap tidur, namun masih dapat bangun dengan mudah. Otot mulai relaksasi. Normalnya, tahap ini berlangsung selama 10-20 menit dan merupakan 50%-55% dari  total tidur (Mubarak, 2007 : 256).
c.       Tahap III
Merupakan awal dari tahap tidur nyenyak. Tidur dalam, relaksasi otot menyeluruh dan individu cenderung sulit dibangunkan. Tahap ini berlangsung selama 15-30 menit dan merupakan 10% dari total tidur (Mubarak, 2007 : 256).
d.      Tahap IV
Tahap IV merupakan tahap tidur di mana seseorang berada dalam tahap tidur yang dalam atau delta sleep. Seseorang menjadi sulit dibangunkan sehingga membutuhkan stimulus. Terjadi perubahan fisiologis, yakni : EEG gelombang otak melemah, nadi dan pernapasan menurun, tekanan darah menurun, tonus otot menurun, metabolisme melambat, temperatur tubuh menurun. Tahap ini merupakan  10% dari total tidur (Mubarak, 2007 : 256).
2.      Tidur REM
Tidur REM merupakan tidur dalam kondisi aktif atau paradoksial. Tidur REM ini ditandai dengan :
1.      Biasanya disertai dengan mimpi aktif
2.      Lebih sulit dibangunkan daripada selama tidur nyenyak gelombang lambat
3.      Tonus otot selama tidur nyenyak sangat tertekan, gelombang lambat, proyeksi spinal atas sistem pengaktivasi retikularis.
4.      Frekuensi jantung dan pernapasan menjadi tidak teratur
5.      Pada otot perifer terjadi beberapa gerakan otot yang tidak teratur
6.      Mata cepat tertutup dan terbuka, nadi cepat dan irregular, tekanan darah meningkat atau berfluktuasi, sekresi gaster meningkat dan metabolisme meningkat
7.      Tidur ini penting untuk keseimbangan mental, emosi, juga berperan dalam belajar, memori dan adaptasi ( Hidayat, 2009 : 125).
Gejala-gejala yang terlihat ketika mengalami kehilangan tidur REM yaitu cenderung hiperaktif, kurang dapat mengendalikan diri dan emosi, nafsu makan bertambah, bingung, dan curiga (Asmadi, 2008). Tidur REM biasanya terjadi setiap 90 menit an berlangsung selama 5-30 menit. Selama tidur REM, otak cenderung aktif dan metabolismenya meningkat hingga 20% ( Mubarak, 2007 : 256).
Pre-sleep
Tahap I à Tahap II à Tahap III                                Tahap IV

     Tidur REM

      Tahap II                                 Tahap III
           
                        Gambar 2.1 Siklus Tidur
     Sumber : Potter dan Perry 2006
  Pola dan Kebutuhan Tidur
a.       Bayi Baru Lahir
Tidur 14-18 jam sehari, 50% tidur NREM, banyak waktu tidur dilewatkan pada tahap III dan IV tidur NREM, setiap siklus sekitar 40-60 menit.
Pernafasan teratur, gerak tubuh sedikit.
b.      Bayi
Tidur 12-14 jam sehari, 20-30 % tidur REM.
Tidur lebih lama pada malam hari dan punya pola terbangun sebentar.
c.       Toddler
Tidur sekitar 12-10 jam sehari, 25% tidur REM.
Banyak tidur pada malam hari, terbangun dini hari berkurang, siklus bangun tidur normal sudah menetap pada umur 2-3 tahun.
d.      Pra Sekolah
Tidur sekitar 11 jam sehari, 20% tidur REM.
Pada umu 5 tahun, tidur siang tidak ada kecuali kebiasaan tidur siang hari.
e.       Usia Sekolah
Tidur sekitar 10 jam sehari, 18,5% tidur REM.
Sisa waktu tidur relatif konstan.
f.       Remaja
Tidur sekitar 8,5 jam sehari dan 20% tidur REM.
g.      Dewasa Muda
Tidur sekitar 7-9 jam sehari, 20-25% tidur REM, 5-10% tidur tahap I, 50% tidur tahap II, dan 10-20% tidur tahap II-IV.
h.      Dewasa Pertengahan
Tidur sekitar 7 jam sehari, 20% tidur REM.
Mungkin mengalami insomnia dan sulit untuk dapat tidur.
i.        Dewasa Tua
Tidur sekitar 6 jam sehari, 20-25% tidur REM, tidur tahap IV nya berkurang kadang-kadang tidak ada.
Mungkin mnegalaami insomnia dan sering terbangun sewaktu tidur malam hari ( Asmadi, 2008 : 137-138).
Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Tidur
          Pemenuhan kebutuhan tidur pada setiap orang akan berbeda-beda. Terpenuhinya kebutuhan tidur seseorang dilihat dari kuantitas dan kualitas tidur. Menurut Mubarak 2007, banyak faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas tidur seseorang :
1.      Penyakit
Seseorang yang memiliki status kesehatan yang tidak baik misalnya : nyeri atau disttres fisik bisa menyebabkan gangguan tidur. Seseorang yang skit membutuhkan waktu untuk tidur yang lebih banyak daripada biasanya. Disamping itu, siklus bangun tidur selama sakit juga bisa mengalami gangguan ( Mubarak, 2007 : 257).
2.      Lingkungan
Faktor lingkungan memiliki dampak memepermudah tidur atau mempersulit tidur. Sebagai contoh yag tidak nyaman atau ventiasi yang buruk dapat mempengaruhi tidur seseorang. Lingkungan yang bising ribut dan gaduh akan menghambat seseorang untuk tidur ( Mubarak, 2007 : 257).
3.      Kelelahan
Kondisi tubuh yang lelah akibat aktivitas fisik ataupun aktivitas yang lain dapat mempengaruhi pola tidur seseorang. Semakin lelah sesorang, semakin pendek siklus REM yang dilaluinya. Setelah beristirahat biasanya siklus REM akan kembali memanjang ( Mubarak, 2007 : 257).
4.      Gaya Hidup
Seseorang yang sering berganti jam kerja harus mengatur aktivitasnya agar bisa tidur pada waktu yang tepat ( Mubarak, 2007 : 258).

5.      Nutrisi
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang cukup dapat mempercepat proses tidur. Protein yang tinggi dapat mempercepat terjadinya proses tidur, karena adanya triptofan yang merupakan asam amino dari protein yang dicerna ( Hidayat, 2009:128).
6.      Stress Emosional
Ansietas dan depresi sering kali mengganggu tidur sesorang. Sebab pada seseorang yang berada pada kondisi ansietas kadar norepinefrin darah akan meningkat melalui stimulasi sistem saraf simpatis. Kondisi ini akan menyebabkan siklus tidur NREM tahap IV dan tidur REM akan berkurang dan akan sering terjaga ( Mubarak, 2007 : 258).
7.      Stimulan dan alkohol
Seseorang yang mengkonsumsi alkohol, sikls tidur REM akan terganggu. Minuman yang mengandung kafein akan merangsang SSP sehingga dapat mengganggu pola tidur ( Mubarak, 2007 : 258).
8.      Diet
Penurunan berta badan dikaitkan dengan penurunan waktu tidur dan seringnya terjaga di malam hari. Sebaliknya, penambahan berat badan dikaitkan dengan peningkatan total tdur dan sedikitnya periode terjaga di malam hari ( Mubarak, 2007  : 258).

9.      Merokok
Nikotin yang terkansung didalam rokok memiliki efek stimulan pada tubuh. Akibatnya perokok sering kali kesulitan tidur dan mudah terbangun di malam hari ( Mubarak, 2007 : 259).
10.  Medikasi
Obat-obatan tertentu dpat mempengaruhi kualitas tidur seseorang. Misalnya obat jenis amfetamn akan menurunkan tidur REM. Hipotik dapat mengganggu tahap II dan IV tidur NREM sedangkan obat-obatan jenis narkotik dapat menekan tidur REM dan menyebabkan sering terjaga di malam hari ( Mubarak, 2007 : 259).
11.  Motivasi
Keinginan untuk tetap terjaga terkadang dapat menutupi perasaan lelah seseorang. Sebaliknya perasaan bosan atau tidak adanya motivasi untuk terjaga seringkali dapat mendatangkan kantuk ( Mubarak, 2007 : 259).

Minggu, 27 Desember 2015

Penatalaksanaan Gangguan Tidur Pada Lansia




 APA YANG HARUS DILAKUKAN AGAR LANSIA BISA MEMEPRTAHANKAN KUALITAS TIDURNYA??
1.      Pencegahan Primer
Sebelas peraturan untuk mendapatkan higiene tidur yang baik telah berhasil diidentifikasi untuk pencegahan primer gangguan tidur, yaitu:
a.       Tidur sperlunya, tetapi tidak berlebihan agar merasa segar dan sehat dihari berikutnya. Pembatasan waktu tidur dapat memperkuat tidur, berlebihnya waktu yang dhabiskan ditempat tidur tampaknya berkaitan dengan tidur yang terputus-putus dan dangkal.
b.      Waktu bangun yang teratur dipagi hari memperkuat siklus sirkadian dan menyebabkan awitan tidur yang teratur.
c.       Jumlah latihan yang stabil setiap harinya dapat memeprdalam tidur, namun latihan yang hanya dilakukan kadang-kadang tidak dapat memeperbaiki tidur pada malam hari berikutnya.
d.      Bunyi bising yang bersifat kadang-kadang dapat mengganggu tidur sekalipun orang tersebut tidak terbangunoleh bunyinya dan tidak dapat mengingatnya dipagi hari.
e.       Meskipun ruangan yang terlalu hangat dapat mengganggu tidur, namun tidak ada bukti yang menunjukkan kamar yang terlalu dingin dapat membantu tidur.
f.       Rasa lapar yang mengganggu tidur, kudapan ringan dapat membantu tidur.
g.      Pil tidur yang hanya kadang-kadang saja digunakan dapat bersifat menguntungkan, namun penggunaannya yang kronis tidak efektif pada kebanyakan penderita insomnia.
h.      Kafein dimalam hari dapat menggangg tidur, meskipun ada orang-orang yang tidak berfikir demikian.
i.        Alkohol dapat membantu orang-orang yang tegang untuk tertidur lebih mudah, tetapi tidur tersebut kemudian akan terputus-putus.
j.        Orang-orang yang merasa frustasi dan marah karena tidak dapat tidur, tidak boleh berusaha terlalu keras untuk tertidur tetapi harus menyalakan lampu dan melakukan hal—hal lain yang berbeda.
k.      Penggunaan tembakau yang kronis dapat menganggu tidur.
              Tindakan pencegahan primer lainnya antara lain, yaitu :
a.       Kasur yang baik memungkinkan kesejajaran tubuh yang tepat
b.      Suhu kamar harus tetap dingin sehingga cukup nyaman
c.       Asupan kalori harus minimal pada saat menjelang tidur
d.      Latihan sedang di siang hari atau sore hari merupakan hal yang dianjurkan (Stanley & Beare, 2006 : 451-452).
2.      Pencegahan Sekunder
Catatan harian tentang tidur merupakan cara pengkajian yang sangat bagus bagi lansia adirumahnya sendiri. Informasi ini memberikan catatan yang kurang akurat tentang masalah tidur. Untuk memeberikan gambaran sejati tentang gangguan tidur yang dialami lansia, catatan harian tersebut harus dibuat selama 3 sampai 4 minggu. Catatn tersebut mencakup faktor-faktor berikut ini :
a.       Seberapa sering bantuan diperlukan untuk memberikan obat nyeri, tidak dapat tidur atau menggunakan kamar mandi
b.      Kapan orang tersebut turun dari tempat tidur
c.       Berapa kali orang tersebut terbangun atau tertidur pada saat diobservasi
d.      Terjadinya konfusi atau disorientasi
e.       Penggunaan obat tidur
f.       Perkiraan orang tersebut bangun dipagi hari (Stanley & Beare, 2006 : 452).
3.      Penatalaksanaan Terapeutik
a.       Pergi tidur hanya jika mengantuk
b.      Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur, jangan membaca, menonton televisi, atau makan di tempat tidur
c.       Jika tdak dapat tidur, bangundan pindah ke ruangan lain. Bangun sampai anda benar-benar mengantuk dan kemudian baru kembali ke tempat tidur. Jika tidur masih tidak bisa dialkukan dengan mudah, bangun lagi dari tempat tidur. Jika tidur masih tidak dapat dilakukan dengan mudah, bangun lagi dari tempat tidur
d.      Siapkan alarm dan bangu tepat waktu yang sama setiap pagi tanpa memperdulikan berapa banyak anda tidur di malam hari. Hal ini membantu tubuh menetapkan irama tidur bangun yang konstan
e.       Jangan tidur disiang hari. (Stanley & Beare, 2006 : 453).
4.      Pencegahan Tersier
Jika terdapat gangguan tidur seperti apnea tidur yang mengancam kehidupan, kondisi pasien memerlukan rehabilitasi melalui tindakan-tindakan seperti pengangkatan jaringan yang menyumbat dimulut dan mempengaruhi jalan nafas. Saat ini sudah banyak pusat-pusat gangguan tidur yang tersedia di seluruh negara untuk membantu mengevaluasi gangguan tidur (Stanley & Beare, 2006 : 454).