PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK PADA ORGAN REPRODUKSI WANITA
PAPSMEAR
A. Definisi Pap Smear
Tes Pap
Smear adalah pemeriksaan sitologi dari serviks dan porsio untuk melihat adanya
perubahan atau keganasan pada epitel serviks atau porsio (displasia) sebagai
tanda awal keganasan serviks atau prakanker (Rasjidi, Irwanto, Sulistyanto,
2008). Pap Smear merupakan suatu metode
pemeriksaan sel-sel yang diambil dari leher rahim dan kemudian diperiksa di
bawah mikroskop. Pap Smear merupakan tes yang aman dan murah dan telah dipakai
bertahun-tahun lamanya untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada
sel-sel leher rahim (Diananda, 2009).
B. Tujuan dari pap smear ini
adalah :
1. Menemukan
sel abnormal atau sel yang dapat berkembang menjadi kanker termasuk infeksi
HPV.
2. Untuk
mendeteksi adanya pra-kanker, ini sangat penting ditemukan sebelum seseorang
menderita kanker.
3. Mendeteksi
kelainan – kelainan yang terjadi pada sel-sel leher rahim.
4. Mendeteksi
adanya kelainan praganas atau keganasan servik uteri.
C.
Wanita yang dianjurkan test Pap Smear
Wanita-wanita
sasaran test Pap Smear (Sukaca, 2009) sebagai berikut:
a. Setiap 6-12 bulan untuk wanita yang
berusia muda sudah menikah atau belum namun
aktivitas seksualnya sangat tinggi.
b. Setiap 6-12 bulan untuk wanita yang berganti-ganti
pasangan seksual atau pernah menderita infeksi HPV atau kutil kelamin.
c. Setiap tahun untuk wanita yang berusia di atas 35
tahun.
d. Setiap tahun untuk wanita yang memakai pil KB.
e. Setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia di atas 35
tahun.
f. Pap Smear test setahun sekali bagi wanita antara umur
40-60 tahun dan juga bagi wanita di bawah 20 tahun yang seksualnya aktif.
g.
Sesudah 2 kali pap test (-) dengan interval 3 tahun dengan catatan bahwa wanita
resiko tinggi harus lebih sering menjalankan pap test.
h.
Sesering mungkin jika hasil Pap Smear menunjukan abnormal, sesering mungkin
setelah penilaian dan pengobatan pra kanker maupun kanker serviks.
D.
Syarat Pengambilan Bahan Pemeriksaan Pap
Smear
1. Bahan pemeriksaan harus berasal dari
portio serviks (sediaan servikal) dan mukosa endoserviks (sediaan endoservikal)
2.
Pengambilan Pap Smear dapat dilakukan setiap waktu di luar masa haid yaltu
sesudah hari sikius haid ke tujuh sampai masa premenstruasi.
3.
Apabila penderita mengalami gejala perdarahan di luar masa haid dan dicuriigai
disebabkan oleh kanker serviks maka sediaan Pap Smear harus dibuat saat itu
juga.
4.
Alat-alat yang digunakan sedapat mungkin yang memenuhi syarat untuk
menghindari hasil pemeriksaan negatif palsu.
Bahan
pemeriksaan Pap smear terdiri atas sekret vagina, sekret servikal
(ektoserviks), sekret endoservikal (endoserviks), sekret endometrial dan
forniks posterior.
E. Prosedur Tindakan
Alat
dan bahan pemeriksaan Pap Smear
Dalam membuat sediaan
apusan Pap Smear diperlukan bahan dan alat sebagai berikut:
a. Spekulum
vagina cocor bebek.
b. Spatula
Ayre dari kayu model standar dan model modifikasi.
c. Kapas
lidi atau cytobrush
d. Bahan
fiksasi basah berupa cairan fiksasi alkohol 95% dalam tabung atau bahan fiksasi
kering berupa hair spray.
e. Kaca
objek.
f. Lampu
sorot yang dapat digerakkan.
g. Formulir
permintaan pemeriksaan sitologi apusan Pap.
h. Meja
pemeriksaan (lestadi, J.209).
Persiapan
Pemeriksaan Pap Smear
1.
Menghindari persetubuhan, penggunaan tampon, pil vagina,
ataupun mandi berendam dalam bath tub, selama 24 jam sebelum pemeriksaan, untuk
menghindari ‘kontaminasi’ ke dalam vagina yang dapat mengacaukan hasil
pemeriksaan.
2.
Tidak sedang menstruasi , karena darah dan sel dari
dalam rahim dapat mengganggu keakuratan hasil pap smear.
Cara pengambilan bahan apusan Pap
Cara mengambil bahan sediaan apusan Pap dari berbagai
sumber:
a.
Sekret
vaginal
Sekret vaginal diambil
dengan mengapus dinding lateral vagina sepertiga bagian atas, dengan
spatula ayre. Caranya:
1) Pasang Spekulum steril tanpa
memakai bahan pelicin.
2) Apus sekret dari dinding
lateral vagina sepertiga bagian atas dengan ujung spatulaayre yang
berbentuk bulat lonjong seperti lidah.
3) Pulaskan sekret yang didapat
pada kaca objek secukupnya, jangan terlalu tebal dan jangan terlalu tipis.
4) Setelah selesai difiksasi
minimal selama 30 menit, sediaan siap untuk dikirim ke laboratorium sitologi.
b. Sekret
Servikal (Eksoserviks)
Sekret yang diambil
dengan mengapus seluruh permukaan porsio serviks sekitar orifisium uteri
eksternum dengan spatula ayre. Caranya:
1) Pasang
spekulum steril tanpa memakai bahan pelicin.
2) Dengan
ujung spatula Ayre yang berbentuk bulat lonjong seperti lidah,
apus sekret dari seluruh permukaan porsio serviks dengan sedikit tekanan tanpa
melukainya. Gerakan searah jarum jam, diputar melingkar 360°.
3) Ulaskan
sekret yang didapat pada kaca objek secukupnya, jangan terlalu tebal dan jangan
terlalu tipis.
4) Fiksasi
segera sediaan yang telah dibuat dengan cairan fiksasi alkohol 95% atau hair
spray.
5) Setelah
selesai difiksasi minimal selama 30 menit, sediaan siap dikirim ke laboratorium
sitologi.
c. Sekret
endoserviks
Diambil
dengan mengapus permukaan mukosa kanalis endoserviks dan daerahsquomo-columnar
junction, dengan bantuan alat pengambil bahan sediaan endoserviks, yaitu
kapas lidi atau cytobrush. Kapas lidi adalah alat pengambil
sediaan endoserviks yang paling tua dan paling banyak dipakai, tetapi saat ini
sudah tidak direkomendasikan lagi. Cytobrush adalah alat berbentuk
sonde dari plastik yang ujungnya mempunyai sikat halus seperti sikat gigi, yang
berfungsi untuk menampung sekret endoserviks. Caranya:
a. Lekatkan
sedikit kapas lidi pada ujung alat ecouvillon rigide jika
hendak menggunakan alat tersebut. Jika menggunakan cytobrush tidak
perlu tambahan kapas.
b. Masukkan ecouvillon
rigid atau cytobrush kedalam kanalis endoserviks
sedalam satu atau dua sentimeter dari orifisium uteri eksternum.
c.Putar
alat tersebut 360° untuk mengapus seluruh permukaan mukosa endoserviks dan
daerah squomo-columnar junction.
d. Pulaskan
sekret yang didapat pada kaca objek secukupnya, jangan terlalu tebal dan jangan
terlalu tipis.
e. Fiksasi
segera sediaan yang telah dibuat dengan cairan fiksasi alkohol 95% atau hair
spray.
f. Setelah selesai difiksasi, minimal selama 30 menit,
sediaan siap dikirim ke laboratorium sitologi.
IVA (Inspeksi Visual Dengan Asam Asetat)
A. Pengertian IVA
IVA
(inspeksi visual dengan asam asetat) merupakan cara sederhana untuk mendeteksi
kanker leher rahim sedini mungkin (Sukaca E. Bertiani, 2009)
IVA merupakan pemeriksaan leher rahim (serviks) dengan cara melihat langsung (dengan mata telanjang) leher rahim setelah memulas leher rahim dengan larutan asam asetat 3-5% (Wijaya Delia, 2010). Pemeriksaan IVA merupakan pemeriksaan skrining alternatife dari pap smear karena biasanya murah, praktis, sangat mudah untuk dilaksanakan dan peralatan sederhana serta dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan selain dokter ginekologi.
IVA merupakan pemeriksaan leher rahim (serviks) dengan cara melihat langsung (dengan mata telanjang) leher rahim setelah memulas leher rahim dengan larutan asam asetat 3-5% (Wijaya Delia, 2010). Pemeriksaan IVA merupakan pemeriksaan skrining alternatife dari pap smear karena biasanya murah, praktis, sangat mudah untuk dilaksanakan dan peralatan sederhana serta dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan selain dokter ginekologi.
B.
Tujuan, keuntungan, jadwal, syarat
mengikuti IVA
Untuk
mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini
terhadap kasus-kasus yang ditemukan. Untuk mengetahui kelainan yang terjadi
pada leher rahim.
Jadwal IVA
Program Skrining Oleh WHO
:
- Skrining pada setiap wanita minimal 1X pada usia 35-40 tahun
- Kalau fasilitas memungkinkan lakukan tiap 10 tahun pada usia 35-55 tahun
- Kalau fasilitas tersedia lebih lakukan tiap 5 tahun pada usia 35-55 tahun (Nugroho Taufan, dr. 2010:66)
- Ideal dan optimal pemeriksaan dilakukan setiap 3 tahun pada wanita usia 25-60 tahun.
- Skrining yang dilakukan sekali dalam 10 tahun atau sekali seumur hidup memiliki dampak yang cukup signifikan.
- Di Indonesia, anjuran untuk melakukan IVA bila : hasil positif (+) adalah 1 tahun dan, bila hasil negatif (-) adalah 5 tahun
- Skrining pada setiap wanita minimal 1X pada usia 35-40 tahun
- Kalau fasilitas memungkinkan lakukan tiap 10 tahun pada usia 35-55 tahun
- Kalau fasilitas tersedia lebih lakukan tiap 5 tahun pada usia 35-55 tahun (Nugroho Taufan, dr. 2010:66)
- Ideal dan optimal pemeriksaan dilakukan setiap 3 tahun pada wanita usia 25-60 tahun.
- Skrining yang dilakukan sekali dalam 10 tahun atau sekali seumur hidup memiliki dampak yang cukup signifikan.
- Di Indonesia, anjuran untuk melakukan IVA bila : hasil positif (+) adalah 1 tahun dan, bila hasil negatif (-) adalah 5 tahun
Syarat Mengikuti Test IVA
- Sudah pernah melakukan hubungan seksual
- Tidak sedang datang bulan/haid
- Tidak sedang hamil
- 24 jam sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual
- Sudah pernah melakukan hubungan seksual
- Tidak sedang datang bulan/haid
- Tidak sedang hamil
- 24 jam sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual
C.
Posedur tindakan
Indikasi
Semua wanita dianjurkan untuk melakukan
tes kanker. Skrining kanker leher rahim dilakukan pada semua wanita yang
memiliki faktor resiko, yaitu :
·
Wanita usia muda yang
pernah melakukan hubungan seksual usia < 20 tahun.
·
Memiliki banyak
pasangan seksual
·
Riwayat pernah
mengalami IMS (Infeksi Menular Seksual)
·
Ibu atau saudara yang
memiliki kanker serviks
·
Hasil Pap Smear
sebelumnya yang tidak normal
·
Wanita yang terlalu
sering melahirkan
·
Wanita perokok
(Rasjidi, 2008).
Kontra Indikasi
Tidak direkomendasikan pada wanita Pascamenopause,
karena daerah zona transisional seringkali terletak kanalis servikalis dan
tidak tampak dengan pemeriksaan inspekulo (Rasjidi, 2010).
Persiapan Pasien
1. Syarat : tidak coitus terakhir hari sebelumnya, tidak menggunakan obat vaginal minimal 2 hari sebelumnya, tidak sedang haid
2. Mempersilahkan pasien untuk kencing
3. Mempersilahkan pasien untuk membuka pakaian bawahnya
4. mempersilahkan pasien untuk tidur di meja gyn
5. Merpersilahkan pasien untuk tidur dengan posisi lithotomi
1. Syarat : tidak coitus terakhir hari sebelumnya, tidak menggunakan obat vaginal minimal 2 hari sebelumnya, tidak sedang haid
2. Mempersilahkan pasien untuk kencing
3. Mempersilahkan pasien untuk membuka pakaian bawahnya
4. mempersilahkan pasien untuk tidur di meja gyn
5. Merpersilahkan pasien untuk tidur dengan posisi lithotomi
Pelaksanaan Skrining
IVA
·
Untuk melaksanakan
skrining dengan metode IVA, dibutuhkan tempat dan alat sebagai berikut:
·
Ruangan tertutup,
karena pasien diperiksa dengan posisi litotomi.
·
Meja/tempat tidur
periksa yang memungkinkan pasien berada pada posisi litotomi.
·
Terdapat sumber cahaya
untuk melihat serviks
·
Spekulum vagina
·
Asam asetat (3-5%)
·
Swab-lidi berkapas
·
Sarung tangan
Cara Kerja IVA
·
Sebelum dilakukan
pemeriksaan, pasien akan mendapat penjelasan mengenai prosedur yang akan
dijalankan. Privasi dan kenyamanan sangat penting dalam pemeriksaan ini.
·
Pasien dibaringkan
dengan posisi litotomi (berbaring dengan dengkul ditekuk dan kaki melebar).
·
Vagina akan dilihat
secara visual apakah ada kelainan dengan bantuan pencahayaan yang cukup.
·
Spekulum (alat pelebar)
akan dibasuh dengan air hangat dan dimasukkan ke vagina pasien secara tertutup,
lalu dibuka untuk melihat leher rahim.
·
Bila terdapat banyak
cairan di leher rahim, dipakai kapas steril basah untuk menyerapnya.
·
Dengan menggunakan
pipet atau kapas, larutan asam asetat 3-5% diteteskan ke leher rahim. Dalam
waktu kurang lebih satu menit, reaksinya pada leher rahim sudah dapat dilihat.
·
Bila warna leher rahim
berubah menjadi keputih-putihan, kemungkinan positif terdapat kanker. Asam
asetat berfungsi menimbulkan dehidrasi sel yang membuat penggumpalan protein,
sehingga sel kanker yang berkepadatan protein tinggi berubah warna menjadi
putih.
·
Bila tidak didapatkan
gambaran epitel putih padadaerah transformasi bearti hasilnya negative.
KURETASE
A. Pengertian
Kuretase adalah cara membersihkan hasil konsepsi memakai
alat kuretase (sendok kerokan). Kuretase adalah serangkaian
proses pelepasan jaringan yang melekat pada dinding kavum uteri dengan
melakukan invasi dan memanipulasi instrument (sendok kuret) ke dalam kavum
uteri.
Kuret adalah tindakan medis
untuk mengeluarkan jaringan dari dalam rahim. Jaringan itu sendiri bisa berupa
tumor, selaput rahim, atau janin yang dinyatakan tidak berkembang maupun sudah
meninggal. Sebuah kuret adalah alat bedah yang dirancang untuk mengorek jaringan
biologis atau puing di sebuah biopsi, eksisi, atau prosedur pembersihan.
(Michelson, 1988).
B. Tujuan
Kuretase
Menurut ginekolog dari Morula Fertility Clinic, RS Bunda,
Jakarta, tujuan kuret ada dua yaitu:
·
Sebagai terapi pada
kasus-kasus abortus. Intinya, kuret ditempuh oleh dokter untuk membersihkan
rahim dan dinding rahim dari benda-benda atau jaringan yang tidak diharapkan.
·
Penegakan
diagnosis. Semisal mencari tahu gangguan yang terdapat pada rahim, apakah
sejenis tumor atau gangguan lain. Meski tujuannya berbeda, tindakan yang
dilakukan pada dasarnya sama saja. Begitu juga persiapan yang harus dilakukan
pasien sebelum menjalani kuret.
C. Prosedur
Persiapan
Sebelum Kuretase
·
Konseling pra
tindakan :
1) Memberi informed consent
2) Menjelaskan pada klien tentang penyakit yang
diderita
3) Menerangkan kepada pasien tentang tindakan
kuretase yang akan dilakukan:
garis besar prosedur tindakan, tujuan dan manfaat
tindakan
4) memeriksa keadaan umum pasien, bila memungkinkan
pasien dipuasakan.
·
Pemeriksaan sebelum
curretage
1. USG (ultrasonografi)
2. Mengukur tensi dan Hb darah
3. Memeriksa sistim pernafasan
4. Mengatasi perdarahan
5. Memastikan pasien dalam kondisi sehat dan fit
Persiapan tindakan
1. Persiapan psikologis
Persiapan petugas
·
mencuci tangan dengan sabun
antiseptic
·
baik dokter maupun
perawat instrumen melakukan cuci tangan steril
·
memakai perlengkapan :
baju operasi, masker dan handscoen steril
·
Perawat instrumen
memastikan kembali kelengkapan alat-alat yang akan digunakan dalamtindakan
kuret
·
Alat disusun di atas
meja mayo sesuai dengan urutan
Persiapan alat dan obat :
a) Alat tenun, terdiri dari :
· baju operasi
· laken
· doek kecil
· sarung meja mayo
b) Alat-alat kuretase hendaknya telah tersedia alam
bak alat dalam keadaan aseptic berisi :
· Speculum dua buah (Spekullum cocor bebek (1) dan
SIMS/L (2) ukuran S/M/L) speculum 2 Buah.
· Sonde (penduga) uterus:
1) untuk mengukur kedalaman rahim
2) untuk mengetahui lebarnya lubang vagina
· Cunam muzeus atau Cunam porsio
· Berbagai ukuran busi (dilatator) Hegar
· Bermacam – macam ukuran sendok kerokan (kuret 1
SET)
· Cunam tampon (1 buah)
· Pinset dan klem
· Kain steril, dan sarung tangan dua pasang.
· Menyiapkan alat kuret AVM
· Ranjang ginekologi dengan penopang kaki
· Meja dorong / meja instrument
· Wadah instrumen khusus ( untuk prosedur AVM )
· AVM Kit (tabung, adaptor, dan kanula)
· Tenakulum (1 buah)
· Klem ovum/fenster (2 buah)
· Mangkok logam
· Dilagator/ busi hegar (1 set)
· Lampu sorot
· Kain atas bokong dan penutup perut bawah
· Larutan anti septik (klorheksidin, povidon iodin,
lkohol)
· Tensimeter dan stetoskop
· Sarung tangan DTT dan alas kaki
· Set infus
· Abocatt
· Cairan infus
· Wings
· Kateter Karet 1 buah
· Spuit 3 cc dan 5 cc
2.
Menyiapkan pasien
·
mengosongkan
kandung kemih
·
membersihkan
genetalia eksterna
·
membantu pasien
naik ke meja ginek
·
Lakukanlah
pemeriksaan umum : Tekanan Darah, Nadi, Keadaan Jantung, dan Paru – paru dan
sebagainya.
·
Pasanglah
infuse cairan sebagai profilaksis
·
Pada umumnya
diperlukan anestesi infiltrasi local atau umum secara IV dengan ketalar.
·
Sebelum masuk ke
ruang operasi, terlebih dahulu pasien harus dipersiapkan dari ruangan
·
Puasa: Saat akan
menjalani kuretase, dilakukan puasa 4-6 jam sebelumnya. Tujuannya supaya perut
dalam keadaan kosong sehingga kuret bisa dilakukan dengan maksimal.
·
Cek adanya
perdarahan
·
Mengganti baju
pasien dengan baju operasi
·
Memakaikan baju
operasi kepada pasien dan gelang sebagai identitas
·
Pasien dibawa ke
ruang operasi yang telah ditentukan
·
Mengatur posisi
pasien sesuai dengan jenis tindakan yang akan dilakukan, kemudian pasien dibius
dengan anesthesi narkose
3. Pelaksanaan
1.
Setelah persiapan
operator dan pasien selesai, pasien diminta untuk berbaring pada posisi
lithotomi setelah sebelumnya mengosongkan vesica urinaria.
2.
Perineum dibersihkan
dengan cairan antiseptik
3.
Dilakukan pemeriksaan
dalam ulangan untuk menentukan posisi servik, arah dan ukuran uterus serta
keadaan adneksa
4.
Spekulum dipasang dan
bibir depan porsio dijepit dengan 1 atau 2 buah cunam servik.
5.
Gagang sonde dipegang antara ibu jari dan telunjuk tangan kanan
dan kemudian dilakukan sondage untuk menentukan arah dan kedalaman uterus
Gambar : Spekulum vagina dipasang dan
dipegang oleh asisten, sonde uterus dimasukkan kedalam cavum uteri untuk
menentukan arah dan kedalaman uterus
6.
Bila perlu dilakukan dilatasi dengan dilatator Hegar
7.
Jaringan sisa kehamilan yang besar diambil
terlebih dulu dengan cunam abortus
8.
Sendok
kuret dipegang diantara ujung jari dan jari telunjuk tangan kanan (hindari cara
memegang sendok kuret dengan cara menggenggam), sendok dimasukkan ke kedalam
uterus dalam posisi mendatar dengan lengkungan yang menghadap atas.
Gambar : Sendok uterus dimasukkan secara
mendatar dengan lengkungan menghadap atas dan kuretase dikerjakan secara
sistematis
Gambar : Pengeluaran
sisa kehamilan yang relatif besar
9.
Pengerokan uterus dikerjakan secara sistematik
( searah dengan jarum jam dan kemudian berlawanan arah dengan jarum jam ).
Cavum uteri dianggap bersih bila tidak terdapat jaringan sisa kehamilan lagi
yang keluar dan cairan darah cavum uteri berbuih.
10. Rongga vagina
dibersihkan dari sisa jaringan dan darah.
11. Diberikan doxycycline
200 mg per oral pasca tindakan dan 100 mg sebelum tindakan.
BIOPSI
A.
Pengertian
Mikrokuretase
atau juga dikenal dengan istilah biopsi endometrium adalah pemeriksaan untuk
menilai ciri, bentuk, dan besarnya sel selaput lendir rahim (endometrium).
Mikrokuretase dilakukan dengan mengambil percontoh sel endometrium memakai
kuret kecil khusus yang dimasukkan melalui saluran leher rahim (kanalis
servikalis) ke dalam rongga rahim. Biopsi dapat dilakukan untuk mengetahui apakah kanker telah
menyebar ke leher rahim. . Biopsi dari vulva juga dapat dilakukan untuk melihat
apakah kanker telah menyebar di sana.
·
Biopsi dapat dilakukan pada vulva-vagina atau servik
·
Pada endometrium biopsi dapat dilakukan dengan
D & C atau menggunakan metode “kuretase fraksional”.
B.
Tujuan Biopsi
Suatu biopsi endometrium dilakukan
untuk:
1.Biopsi endometrium
dapat dilakukan untuk membantu menentukan penyebab dari beberapa abnormal hasil
pap test
2.Menemukan
penyebab pendarahan rahim berat, berkepanjangan, atau tidak teratur. Hal ini
sering dilakukan untuk mengetahui penyebab perdarahan uterus pada wanita yang
telah melalui menopause.
C. Indikasi
1.
Wanita dengan anovulasi
kronis seperti polycystic ovary syndrome akan meningkatkan risiko untuk
masalah endometrium dan biopsi endometrium mungkin berguna untuk menilai mereka
lapisan khusus untuk menyingkirkan hiperplasia endometrium atau
kanker.
2.
Pada wanita dengan kelainan
pendarahan vagina, biopsi dapat menunjukkan adanya lapisan abnormal seperti
hiperplasia endometrium atau kanker
3.
Pada pasien dengan
dicurigai kanker rahim, biopsi dapat menemukan adanya sel kanker di endometrium
atau leher rahim.
4.
Pada wanita infertilitas
penilaian lapisan dapat menentukan, jika benar waktunya, bahwa pasien ovulasi,
Namun, informasi yang sama dapat diperoleh dengan tes darah progesterone level.
D.
Cara kerja biopsy endometrium
Aturan persiapan untuk pasien:
1.Mikrokuretase
biasanya dilakukan pada hari ke 21-22 siklus haid normal.
2.Mikrokuretase
dilakukan jika uji kehamilan menunjukkan hasil negatif karena terdapat risiko
bahwa tindakan ini dapat meng-gangu kehamilan dini.
3.Pasien
tidak dalam keadaan demam tinggi, atau sakit berbahaya di alat kelamin (misal
infeksi atau perdarahan vagina).
4.Pasien
diharuskan puasa sekurang-kurangnya 6 jam sebelum tindakan.
5.Pasien
harus mengosongkan kandung kemih sebelum tindakan.
6.Untuk
menghindari kecemasan, biasanya sebelum dilakukan tindakan pasien diberikan
obat penenang, dan setelah tindakan diberikan obat pereda nyeri
7.Setelah
tindakan dan bilamana telah sadar dari pengaruh obat penenang, pasien boleh
pulang dan periksa kembali ke dokter 2 minggu kemudian.
8.Pasien
mungkin akan mengalami kram ringan satu jam setelah tindakan (setelah khasiat
obat penenang hilang), dan juga mengalami bercak darah (spotting).
Perdarahan ringan dan spotting dapat menetap hingga siklus haid berikutnya (sekitar
7 hari lagi).
E.
Cara Pengambilan
Teknik
Biopsi
a. FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy)
atau Si Bajah (Sitologi Biopsi Aspirasi Jarum Halus) → Menggunakan alat yang
terdiri dari tabung suntik plastik ukuran 10 ml, jarum halus, gagang pemegang
tabung suntik, kaca objek dan desinfektan alkohol atau betadin. Tumor dipegang
lembut lalu jarum diinsersi segera ke dalam tumor. Piston di dalam tabung
suntik ditarik ke arah proksimal; tekanan di dalam tabung menjadi negatif;
jarum manuver mundur-maju. Dengan cara demikian sejumlah sel massa tumor masuk
ke dalam lumen jarum suntik. Piston dalam tabung dikembalikan pads posisi
semula dengan cara melepaskan pegangan. Aspirat dikeluarkan dan dibuat sediaan
hapus, dikeringkan di udara dan dikirimkan ke laboratorium. Sering terjadi
false negative karena kemungkinan jarum tidak tepat mengambil sel yang terkena
kanker.
b.Stereotactic Needle Biopsy (Core
Biopsy) → Dilakukan pada suatu gumpalan (bengkak) yang sulit untuk dilihat atau
dirasakan. Jarum akan dituntun ke area yang dicurigai dengan bantuan
mammography atau ultrasound, dan X-ray akan memastikan area yang ingin
dibiopsi.
c. Incisional Biopsy → Seperti operasi pembedahan pada umumnya.
Pengambilan irisan dari benjolan. Pada umumnya tipe ini dilakukan pada pembengkakan
di jaringan ikat seperti otot.
d. Excisional Biopsy → Keseluruhan benjolan diambil. Sering
dilakukan pada benjolan di dada. False negative jarang terjadi.
ABORSI
A. Pengertian
Pengertian
aborsi menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008) adalah terpencarnya embrio yang
tak mungkin lagi hidup (sebelum habis bulan keempat dari kehamilan). Pengertian
aborsi menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana di Indonesia adalah :
·
Pengeluaran hasil konsepsi pada stadium perkembangannya
sebelum masa kehamilan yang lengkap tercapai (38-40 minggu).
·
Pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan (berat kurang dari 500 gram atau kurang dari 20 minggu).
B.
Macam-Macam Tindakan Aborsi dan
Persiapannya
Aborsi yang aman bisa dilakukan
dengan dua cara, yaknisurgical atau medical. Surgical atau
tindakan yang di lakukan di klinik oleh dokter dengan alat-alat yang steril
dengan metode tindakan yang di sesuaikan dengan usia kehamilan dan menggunakan
alat-alat yang steril.
a. Surgical Abortion
Berikut adalah tahapan proses
melakukan aborsi surgical :
·
Adanya konseling pra-aborsi, melalui koseling ini pasien
akan di jelaskan mengenai berbagai pilihan, resiko, dan kemungkinan komplikasi.
Konseling ini bertujuan membantu pasien menentukan keputusan yang bijak. Perlu
diingat melakukan aborsi adalah bukan suatu keputusan yang mudah karena di
butuhkan mental, fisik dan finansial.
·
Kemudian dokter akan melakukan tes USG untuk mengetahui usia
pasti kehamilan. Mengetahui usia pasti kehamilan penting untuk metode aborsi
yang akan dilakukan, dokter juga akan memeriksa kondisi kesehatan pasien untuk
memastikan tidak ada resiko besar selama dan setelah tindakan aborsi.
·
Secara umum pasien harus memperhatikan klinik yang dipilih,
identifikasikan klinik tersebut apakah standar untuk sterilisasi alat sudah
baik atau belum.
·
Gunakan hak sebagai klien untuk bertanya. Klinik yang baik
dan pro hak perempuan akan memberikan penjelasan mengenai prosedur aborsi
maupun mengenai kesehatan pasien.
·
Dokter akan mengatur jadwal check-up dua minggu atau
sebulan setelah tindakan, jika dokter tidak memberikan jadwal check-up,
maka pasien berhak memintanya.
·
Kontak intens dokter atau klinik paska tindakan aborsi jika
di rasa ada keluhan.
b. Medical Abortion
Aborsi
medical adalah aborsi yang menggunakan obat-obatan campuran dari
mifepristone dengan misoprostol dengan pengawasan dari dokter atau konselor
ahli. Seperti halnya aborsi dengan metode surgical, konseling pra-aborsi
sangat di perlukan baik dengan dokter atau konselor ahli untuk mengetahui
informasi dosis, tata cara penggunaan, resiko dan komplikasi yang mungkin
terjadi. Selanjutnya :
·
Pastikan sebagai pasien, kita telah memberikan informasi
yang benar mengenai usia kehamilan dan kondisi kesehatan karena pada kondisi
kesehatan tertentu penggunaan obat ini harus di sertai dengan antibiotik,
vitamin, atau obat-obat lainnya agar tidak memperburuk kondisi kesehatan
pasien.
·
Lakukan USG untuk mengetahui usia kehamilan dengan pasti,
karena penggunaan obat ini efektif hingga usia kehamilan 9 minggu. Penggunaan
di atas 12 minggu harus dibawah pengawasan dan pendampingan dokter atau
konselor ahli secara intensif untuk menyiapakan mental dengan berbagai
kemungkinan yang terjadi.
·
Lakukan perencanaan yang matang sebelum melakukan aborsi.
Pastikan jarak dari rumah sakit atau klinik tidak jauh kurang lebih satu jam
untuk di jangkau.
·
Tidak meminumnya ketika sendirian, pastikan ada petugas
medis atau orang kepercayaan yang bisa mengantar sewaktu-waktu jika harus
dilarikan ke rumah sakit.
·
Lakukan pencatatan dari mulai mengkonsumsi obat, gejala apa
yang di rasakan, dan kapan mulai terjadi pendarahan.
·
Perhatikan pendarahan yang terjadi dan gumpalan dari hasil
konsepsi (proses pembuahan sel telur oleh sperma) yang keluar. Pendarahan
biasanya akan berlangsung 2 sampai 3 minggu. Dengan memperhatikan proses ini
pasien dapat mengetahui apakah aborsi sudah terjadi secara komplit atau tidak.
·
Jika beberapa hari setelah tindakan masi terasa nyeri akibat
kontraksi, terjadi pendarahan hebat atau munculnya keputihan yang berbau. Itu
pertanda pasien harus sesegera mungkin memeriksakan diri ke klinik. Jika
berdasarkan laporan klinik masih ada jaringan yang tersisa maka pasien dapat
mengambil dosis tambahan atau menjalani prosedur kuret.
C.
Tindakan
Aborsi yang dilakukan seorang dokter atau bidan pada
umumnya dilakukan sebagai berikut :
1. Bayi dibunuh dengan cara ditusuk atau diremukkan didalam kandungan
2. Bayi dipotong-potong tubuhnya agar mudah dikeluarkan
3. Potongan bayi dikeluarkan satu persatu dari kandungan
4. Potongan-potongan disusun kembali untuk memastikan lengkap dan tidak tersisa
5. Potongan-potongan bayi kemudian dibuang ke tempat sampah / sungai, dikubur di
tanah kosong, atau dibakar di tungku
1. Bayi dibunuh dengan cara ditusuk atau diremukkan didalam kandungan
2. Bayi dipotong-potong tubuhnya agar mudah dikeluarkan
3. Potongan bayi dikeluarkan satu persatu dari kandungan
4. Potongan-potongan disusun kembali untuk memastikan lengkap dan tidak tersisa
5. Potongan-potongan bayi kemudian dibuang ke tempat sampah / sungai, dikubur di
tanah kosong, atau dibakar di tungku
|
|
|
|
(1)
|
(2)
|
KULTUR CAIRAN VAGINA
A.
Pengertian Kultur
Cairan Vagina
Kultur cairan vagina adalah kultur terhadap cairan
vagina untuk mendeteksi adanya jenis kuman atau bakteri pathogen. Salah satu
contohnya yaitu kultur keputihan. Kultur Keputihan
Adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui jenis kuman atau bakteri penyebab keputihan patologis apabila dengan pengobatan biasa tidak membuat keputihan berkurang atau sembuh. Dengan adanya kultur, dapat menentukan pemberian terapy yang tepat untuk jenis bakteri atau kuman penyebab keputihan sehingga keputihan dapat disembuhkan.
Sangat baik dilakukan pada pasien yang belum pernah berhubungan atau senggama. Caranya, hanya mengambil cairan/lendir dari vagina dengan menggunakan swab tertentu yang kemudian dimasukkan ke cairan / sediaan tertentu yang kemudian dibawa ke laboratorium. Tidak menimbulkan rasa nyeri, hanya tidak nyaman sedikit dan harus rileks.
Hasil dapat diketahui lebih kurang 5 hari dan sebelum hasil keluar, dokter akan memberikan therapi sesuai dengan sympton/gejala. Berikut ini cara pengambilan cairan atau secret vagina.
Adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui jenis kuman atau bakteri penyebab keputihan patologis apabila dengan pengobatan biasa tidak membuat keputihan berkurang atau sembuh. Dengan adanya kultur, dapat menentukan pemberian terapy yang tepat untuk jenis bakteri atau kuman penyebab keputihan sehingga keputihan dapat disembuhkan.
Sangat baik dilakukan pada pasien yang belum pernah berhubungan atau senggama. Caranya, hanya mengambil cairan/lendir dari vagina dengan menggunakan swab tertentu yang kemudian dimasukkan ke cairan / sediaan tertentu yang kemudian dibawa ke laboratorium. Tidak menimbulkan rasa nyeri, hanya tidak nyaman sedikit dan harus rileks.
Hasil dapat diketahui lebih kurang 5 hari dan sebelum hasil keluar, dokter akan memberikan therapi sesuai dengan sympton/gejala. Berikut ini cara pengambilan cairan atau secret vagina.
B.
Prosedur Tindakan
a. Persiapan alat
1. Sarung tangan steril
2. Kapas lidi steril
3. Kassa steril
4. Larutan klorin 0,5%
5. Kapas Sublimat
6. Krim Antiseptik
7. Objek glass
8. Piring petri
9. 2 buah bengkok
10. Spekulum
11. Perlak
12. Dua buah wadah
13. Stetoskop
14. Celemek
15. Kain sekali pakai
b. Prosedur pengambilan cairan
vagina :
1. Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan kepada klien.
2. Mempersiapkan alat dan bahan, mendekatkan kepada pasien.
3. Memasang sampiran.
4. Membuka atau menganjurkan pasien menanggalkan pakaian bawah (Tetap jaga Privasi
pasien).
5. Mengasang perlak di bawah bokong pasien.
6. Mengatur posisi pasien dengan kaki ditekuk (dorsal recumbent).
7. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan handuk bersih.
8. Gunakan sarung tangan.
9. Buka labia mayora dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan yang tidak dominan.
10. Mengambil sekret Vagina dengan kapas lidi tangan yang dominan sesuai dengan kebutuhan
11. Menghapuskan sekret vagina pada objek glass yang disediakan.
12. Membuang kapas lidi dalam bengkok.
13. Masukan objek glass dalam piring petri atau kedalam tabung kimia dan di tutup.
14. Memberi label dan mengisi formulir pengiriman spesimen untuk dikirim
`ke laboratorium.
15. Membereskan alat.
16. Mencuci sarung tangan: klorin 0,5%, lepas sarung tangan secara terbalik dan rendam dalam klorin selama 10 menit.
17. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkannya dengan handuk bersih
18. Melakukan dokumentasi tindakan yang telah dilakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar