Selasa, 08 Desember 2015

Pemeriksaan Diagnostik Pada Organ Reproduksi Wanita




 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK PADA ORGAN REPRODUKSI WANITA

PAPSMEAR
     A.   Definisi Pap Smear
Tes Pap Smear adalah pemeriksaan sitologi dari serviks dan porsio untuk melihat adanya perubahan atau keganasan pada epitel serviks atau porsio (displasia) sebagai tanda awal keganasan serviks atau prakanker (Rasjidi, Irwanto, Sulistyanto, 2008).  Pap Smear merupakan suatu metode pemeriksaan sel-sel yang diambil dari leher rahim dan kemudian diperiksa di bawah mikroskop. Pap Smear merupakan tes yang aman dan murah dan telah dipakai bertahun-tahun lamanya untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-sel leher rahim (Diananda, 2009).
     B.     Tujuan dari pap smear ini adalah :
1.   Menemukan sel abnormal atau sel yang dapat berkembang menjadi kanker termasuk infeksi HPV.
2.   Untuk mendeteksi adanya pra-kanker, ini sangat penting ditemukan sebelum seseorang menderita kanker.
3.   Mendeteksi kelainan – kelainan yang terjadi pada sel-sel leher rahim.
4.   Mendeteksi adanya kelainan praganas atau keganasan servik uteri.

     C.     Wanita yang dianjurkan test Pap Smear
Wanita-wanita sasaran test Pap Smear (Sukaca, 2009) sebagai berikut:
a. Setiap 6-12 bulan untuk wanita yang berusia muda sudah menikah atau belum namun  aktivitas seksualnya sangat tinggi.
b. Setiap 6-12 bulan untuk wanita yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah menderita infeksi HPV atau kutil kelamin.
c. Setiap tahun untuk wanita yang berusia di atas 35 tahun.
d. Setiap tahun untuk wanita yang memakai pil KB.
e. Setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia di atas 35 tahun.
f. Pap Smear test setahun sekali bagi wanita antara umur 40-60 tahun dan juga bagi wanita di bawah 20 tahun yang seksualnya aktif.
g. Sesudah 2 kali pap test (-) dengan interval 3 tahun dengan catatan bahwa wanita resiko tinggi harus lebih sering menjalankan pap test.
h. Sesering mungkin jika hasil Pap Smear menunjukan abnormal, sesering mungkin setelah penilaian dan pengobatan pra kanker maupun kanker serviks.
    D.    Syarat Pengambilan Bahan Pemeriksaan Pap Smear
1. Bahan pemeriksaan harus berasal dari portio serviks (sediaan servikal) dan mukosa endoserviks (sediaan endoservikal)
 2. Pengambilan Pap Smear dapat dilakukan setiap waktu di luar masa haid yaltu sesudah hari sikius haid ke tujuh sampai masa premenstruasi.
 3. Apabila penderita mengalami gejala perdarahan di luar masa haid dan dicuriigai disebabkan oleh kanker serviks maka sediaan Pap Smear harus dibuat saat itu juga.
4.      Alat-alat yang digunakan sedapat mungkin yang memenuhi syarat untuk menghindari hasil pemeriksaan negatif palsu.
Bahan pemeriksaan Pap smear terdiri atas sekret vagina, sekret servikal (ektoserviks), sekret endoservikal (endoserviks), sekret endometrial dan forniks posterior.
     E.      Prosedur Tindakan
Alat dan bahan pemeriksaan Pap Smear
Dalam membuat sediaan apusan Pap Smear diperlukan bahan dan alat sebagai berikut:
a.    Spekulum vagina cocor bebek.
b.    Spatula Ayre dari kayu model standar dan model modifikasi.
c.    Kapas lidi atau cytobrush
d.    Bahan fiksasi basah berupa cairan fiksasi alkohol 95% dalam tabung atau bahan fiksasi kering berupa hair spray.
e.    Kaca objek.
f.     Lampu sorot yang dapat digerakkan.
g.    Formulir permintaan pemeriksaan sitologi apusan Pap.
h.    Meja pemeriksaan (lestadi, J.209).
Persiapan Pemeriksaan Pap Smear
1.         Menghindari persetubuhan, penggunaan tampon, pil vagina, ataupun mandi berendam dalam bath tub, selama 24 jam sebelum pemeriksaan, untuk menghindari ‘kontaminasi’ ke dalam vagina yang dapat mengacaukan hasil pemeriksaan.
2.         Tidak sedang  menstruasi , karena darah dan sel dari dalam rahim dapat mengganggu keakuratan hasil pap smear.
Cara pengambilan bahan apusan Pap
            Cara mengambil bahan sediaan apusan Pap dari berbagai sumber:
a.       Sekret vaginal
Sekret vaginal diambil dengan mengapus dinding lateral vagina sepertiga bagian atas, dengan spatula ayre. Caranya:
1)    Pasang Spekulum steril tanpa memakai bahan pelicin.
2)    Apus sekret dari dinding lateral vagina sepertiga bagian atas dengan ujung spatulaayre yang berbentuk bulat lonjong seperti lidah.
3)    Pulaskan sekret yang didapat pada kaca objek secukupnya, jangan terlalu tebal dan jangan terlalu tipis.
4)    Setelah selesai difiksasi minimal selama 30 menit, sediaan siap untuk dikirim ke laboratorium sitologi.
b.    Sekret Servikal (Eksoserviks)
Sekret yang diambil dengan mengapus seluruh permukaan porsio serviks sekitar orifisium uteri eksternum dengan spatula ayre. Caranya:
1)    Pasang spekulum steril tanpa memakai bahan pelicin.
2)    Dengan ujung spatula Ayre yang berbentuk bulat lonjong seperti lidah, apus sekret dari seluruh permukaan porsio serviks dengan sedikit tekanan tanpa melukainya. Gerakan searah jarum jam, diputar melingkar 360°.
3)    Ulaskan sekret yang didapat pada kaca objek secukupnya, jangan terlalu tebal dan jangan terlalu tipis.
4)    Fiksasi segera sediaan yang telah dibuat dengan cairan fiksasi alkohol 95% atau hair spray.
5)    Setelah selesai difiksasi minimal selama 30 menit, sediaan siap dikirim ke laboratorium sitologi.
c.    Sekret endoserviks
                  Diambil dengan mengapus permukaan mukosa kanalis endoserviks dan daerahsquomo-columnar junction, dengan bantuan alat pengambil bahan sediaan endoserviks, yaitu kapas lidi atau cytobrush. Kapas lidi adalah alat pengambil sediaan endoserviks yang paling tua dan paling banyak dipakai, tetapi saat ini sudah tidak direkomendasikan lagi. Cytobrush adalah alat berbentuk sonde dari plastik yang ujungnya mempunyai sikat halus seperti sikat gigi, yang berfungsi untuk menampung sekret endoserviks. Caranya:
a.    Lekatkan sedikit kapas lidi pada ujung alat ecouvillon rigide jika hendak menggunakan alat tersebut. Jika menggunakan cytobrush tidak perlu tambahan kapas.
b.    Masukkan ecouvillon rigid atau cytobrush kedalam kanalis endoserviks sedalam satu atau dua sentimeter dari orifisium uteri eksternum.
c.Putar alat tersebut 360° untuk mengapus seluruh permukaan mukosa endoserviks dan daerah squomo-columnar junction.
d.    Pulaskan sekret yang didapat pada kaca objek secukupnya, jangan terlalu tebal dan jangan terlalu tipis.
e.    Fiksasi segera sediaan yang telah dibuat dengan cairan fiksasi alkohol 95% atau hair spray.
f.     Setelah selesai difiksasi, minimal selama 30 menit, sediaan siap dikirim ke laboratorium sitologi.


IVA (Inspeksi Visual Dengan Asam Asetat)
A.    Pengertian IVA
            IVA (inspeksi visual dengan asam asetat) merupakan cara sederhana untuk mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin (Sukaca E. Bertiani, 2009) 
IVA merupakan pemeriksaan leher rahim (serviks) dengan cara melihat langsung (dengan mata telanjang) leher rahim setelah memulas leher rahim dengan larutan asam asetat 3-5% (Wijaya Delia, 2010). Pemeriksaan IVA merupakan pemeriksaan skrining alternatife dari pap smear karena biasanya murah, praktis, sangat mudah untuk dilaksanakan dan peralatan sederhana serta dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan selain dokter ginekologi. 
     B.     Tujuan, keuntungan, jadwal, syarat mengikuti IVA
Untuk mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan. Untuk mengetahui kelainan yang terjadi pada leher rahim.
Jadwal IVA
Program Skrining Oleh WHO :
-
Skrining pada setiap wanita minimal 1X pada usia 35-40 tahun
-
Kalau fasilitas memungkinkan lakukan tiap 10 tahun pada usia 35-55 tahun
-
Kalau fasilitas tersedia lebih lakukan tiap 5 tahun pada usia 35-55 tahun (Nugroho Taufan, dr. 2010:66)
-
Ideal dan optimal pemeriksaan dilakukan setiap 3 tahun pada wanita usia 25-60 tahun.
-
Skrining yang dilakukan sekali dalam 10 tahun atau sekali seumur hidup memiliki dampak yang cukup signifikan.
-
Di Indonesia, anjuran untuk melakukan IVA bila : hasil positif (+) adalah 1 tahun dan, bila hasil negatif (-) adalah 5 tahun
Syarat Mengikuti Test IVA 
- Sudah pernah melakukan hubungan seksual
-
Tidak sedang datang bulan/haid
-
Tidak sedang hamil
-
24 jam sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual

C.    Posedur tindakan
Indikasi
Semua wanita dianjurkan untuk melakukan tes kanker. Skrining kanker leher rahim dilakukan pada semua wanita yang memiliki faktor resiko, yaitu :
·         Wanita usia muda yang pernah melakukan hubungan seksual usia < 20 tahun.
·         Memiliki banyak pasangan seksual
·         Riwayat pernah mengalami IMS (Infeksi Menular Seksual)
·         Ibu atau saudara yang memiliki kanker serviks
·         Hasil Pap Smear sebelumnya yang tidak normal
·         Wanita yang terlalu sering melahirkan
·         Wanita perokok (Rasjidi, 2008).
Kontra Indikasi
Tidak direkomendasikan pada wanita Pascamenopause, karena daerah zona transisional seringkali terletak kanalis servikalis dan tidak tampak dengan pemeriksaan inspekulo (Rasjidi, 2010).
Persiapan Pasien
1. Syarat : tidak coitus terakhir  hari sebelumnya, tidak menggunakan obat vaginal minimal 2 hari sebelumnya, tidak sedang haid
2. Mempersilahkan pasien untuk kencing
3. Mempersilahkan pasien untuk membuka pakaian bawahnya
4. mempersilahkan pasien untuk tidur di meja gyn
5. Merpersilahkan pasien untuk tidur dengan posisi lithotomi
Pelaksanaan Skrining IVA
·         Untuk melaksanakan skrining dengan metode IVA, dibutuhkan tempat dan alat sebagai berikut:
·         Ruangan tertutup, karena pasien diperiksa dengan posisi litotomi.
·         Meja/tempat tidur periksa yang memungkinkan pasien berada pada posisi litotomi.
·         Terdapat sumber cahaya untuk melihat serviks
·         Spekulum vagina
·         Asam asetat (3-5%)
·         Swab-lidi berkapas
·         Sarung tangan
Cara Kerja IVA
·         Sebelum dilakukan pemeriksaan, pasien akan mendapat penjelasan mengenai prosedur yang akan dijalankan. Privasi dan kenyamanan sangat penting dalam pemeriksaan ini.
·         Pasien dibaringkan dengan posisi litotomi (berbaring dengan dengkul ditekuk dan kaki melebar).
·         Vagina akan dilihat secara visual apakah ada kelainan dengan bantuan pencahayaan yang cukup.
·         Spekulum (alat pelebar) akan dibasuh dengan air hangat dan dimasukkan ke vagina pasien secara tertutup, lalu dibuka untuk melihat leher rahim.
·         Bila terdapat banyak cairan di leher rahim, dipakai kapas steril basah untuk menyerapnya.
·         Dengan menggunakan pipet atau kapas, larutan asam asetat 3-5% diteteskan ke leher rahim. Dalam waktu kurang lebih satu menit, reaksinya pada leher rahim sudah dapat dilihat.
·         Bila warna leher rahim berubah menjadi keputih-putihan, kemungkinan positif terdapat kanker. Asam asetat berfungsi menimbulkan dehidrasi sel yang membuat penggumpalan protein, sehingga sel kanker yang berkepadatan protein tinggi berubah warna menjadi putih.
·         Bila tidak didapatkan gambaran epitel putih padadaerah transformasi bearti hasilnya negative.




KURETASE
A.    Pengertian
Kuretase adalah cara membersihkan hasil konsepsi memakai alat kuretase (sendok kerokan). Kuretase adalah serangkaian proses pelepasan jaringan yang melekat pada dinding kavum uteri dengan melakukan invasi dan memanipulasi instrument (sendok kuret) ke dalam kavum uteri.
Kuret adalah tindakan medis untuk mengeluarkan jaringan dari dalam rahim. Jaringan itu sendiri bisa berupa tumor, selaput rahim, atau janin yang dinyatakan tidak berkembang maupun sudah meninggal. Sebuah kuret adalah alat bedah yang dirancang untuk mengorek jaringan biologis atau puing di sebuah biopsi, eksisi, atau prosedur pembersihan. (Michelson, 1988).
B.     Tujuan Kuretase
Menurut ginekolog dari Morula Fertility Clinic, RS Bunda, Jakarta, tujuan kuret ada dua yaitu:
·      Sebagai terapi pada kasus-kasus abortus. Intinya, kuret ditempuh oleh dokter untuk membersihkan rahim dan dinding rahim dari benda-benda atau jaringan yang tidak diharapkan.
·      Penegakan diagnosis. Semisal mencari tahu gangguan yang terdapat pada rahim, apakah sejenis tumor atau gangguan lain. Meski tujuannya berbeda, tindakan yang dilakukan pada dasarnya sama saja. Begitu juga persiapan yang harus dilakukan pasien sebelum menjalani kuret.
C.    Prosedur
Persiapan Sebelum Kuretase
·   Konseling pra tindakan :
1) Memberi informed consent
2) Menjelaskan pada klien tentang penyakit yang diderita
3) Menerangkan kepada pasien tentang tindakan kuretase yang akan dilakukan:
garis besar prosedur tindakan, tujuan dan manfaat tindakan
4) memeriksa keadaan umum pasien, bila memungkinkan pasien dipuasakan.
·   Pemeriksaan sebelum curretage
1. USG (ultrasonografi)
2. Mengukur tensi dan Hb darah
3. Memeriksa sistim pernafasan
4. Mengatasi perdarahan
5. Memastikan pasien dalam kondisi sehat dan fit
Persiapan tindakan
1.      Persiapan psikologis
Persiapan petugas
·   mencuci tangan dengan sabun antiseptic
·   baik dokter maupun perawat instrumen melakukan cuci tangan steril
·   memakai perlengkapan : baju operasi, masker dan handscoen steril
·   Perawat instrumen memastikan kembali kelengkapan alat-alat yang akan digunakan dalamtindakan kuret
·   Alat disusun di atas meja mayo sesuai dengan urutan
Persiapan alat dan obat :
a) Alat tenun, terdiri dari :
· baju operasi
· laken
· doek kecil
· sarung meja mayo
b) Alat-alat kuretase hendaknya telah tersedia alam bak alat dalam keadaan aseptic berisi :
· Speculum dua buah (Spekullum cocor bebek (1) dan SIMS/L (2) ukuran S/M/L) speculum 2 Buah.
· Sonde (penduga) uterus:
1) untuk mengukur kedalaman rahim
2) untuk mengetahui lebarnya lubang vagina
· Cunam muzeus atau Cunam porsio
· Berbagai ukuran busi (dilatator) Hegar
· Bermacam – macam ukuran sendok kerokan (kuret 1 SET)
· Cunam tampon (1 buah)
· Pinset dan klem
· Kain steril, dan sarung tangan dua pasang.
· Menyiapkan alat kuret AVM
· Ranjang ginekologi dengan penopang kaki
· Meja dorong / meja instrument
· Wadah instrumen khusus ( untuk prosedur AVM )
· AVM Kit (tabung, adaptor, dan kanula)
· Tenakulum (1 buah)
· Klem ovum/fenster (2 buah)
· Mangkok logam
· Dilagator/ busi hegar (1 set)
· Lampu sorot
· Kain atas bokong dan penutup perut bawah
· Larutan anti septik (klorheksidin, povidon iodin, lkohol)
· Tensimeter dan stetoskop
· Sarung tangan DTT dan alas kaki
· Set infus
· Abocatt
· Cairan infus
· Wings
· Kateter Karet 1 buah
· Spuit 3 cc dan 5 cc

2.      Menyiapkan pasien
·      mengosongkan kandung kemih
·      membersihkan genetalia eksterna
·      membantu pasien naik ke meja ginek
·      Lakukanlah pemeriksaan umum : Tekanan Darah, Nadi, Keadaan Jantung, dan Paru – paru dan sebagainya.
·      Pasanglah infuse cairan sebagai profilaksis
·      Pada umumnya diperlukan anestesi infiltrasi local atau umum secara IV dengan ketalar.
·      Sebelum masuk ke ruang operasi, terlebih dahulu pasien harus dipersiapkan dari ruangan
·      Puasa: Saat akan menjalani kuretase, dilakukan puasa 4-6 jam sebelumnya. Tujuannya supaya perut dalam keadaan kosong sehingga kuret bisa dilakukan dengan maksimal.
·      Cek adanya perdarahan
·      Mengganti baju pasien dengan baju operasi
·      Memakaikan baju operasi kepada pasien dan gelang sebagai identitas
·      Pasien dibawa ke ruang operasi yang telah ditentukan
·      Mengatur posisi pasien sesuai dengan jenis tindakan yang akan dilakukan, kemudian pasien dibius dengan anesthesi narkose
3.      Pelaksanaan
1.         Setelah persiapan operator dan pasien selesai, pasien diminta untuk berbaring pada posisi lithotomi setelah sebelumnya mengosongkan vesica urinaria.
2.         Perineum dibersihkan dengan cairan antiseptik
3.         Dilakukan pemeriksaan dalam ulangan untuk menentukan posisi servik, arah dan ukuran uterus serta keadaan adneksa
4.         Spekulum dipasang dan bibir depan porsio dijepit dengan 1 atau 2 buah cunam servik.
5.         Gagang sonde dipegang antara ibu jari dan telunjuk tangan kanan dan kemudian dilakukan sondage untuk menentukan arah dan kedalaman uterus
 


Gambar : Spekulum vagina dipasang dan dipegang oleh asisten, sonde uterus dimasukkan kedalam cavum uteri untuk menentukan arah dan kedalaman uterus
6.      Bila perlu dilakukan dilatasi dengan dilatator Hegar
 





Gambar : Dilatator hegar dijepit diantara ibu jari da jari telunjuk tangan kanan dan dimasukkan kedalam uterus secara hati-hati da sistematis (mulai dari ukuran diameter terkecil
7.      Jaringan sisa kehamilan yang besar diambil terlebih dulu dengan cunam abortus
8.      Sendok kuret dipegang diantara ujung jari dan jari telunjuk tangan kanan (hindari cara memegang sendok kuret dengan cara menggenggam), sendok dimasukkan ke kedalam uterus dalam posisi mendatar dengan lengkungan yang menghadap atas.



 



Gambar : Sendok uterus dimasukkan secara mendatar dengan lengkungan menghadap atas dan kuretase dikerjakan secara sistematis



 


Gambar : Pengeluaran sisa kehamilan yang relatif besar
9.      Pengerokan uterus dikerjakan secara sistematik ( searah dengan jarum jam dan kemudian berlawanan arah dengan jarum jam ). Cavum uteri dianggap bersih bila tidak terdapat jaringan sisa kehamilan lagi yang keluar dan cairan darah cavum uteri berbuih.
10.  Rongga vagina dibersihkan dari sisa jaringan dan darah.
11.  Diberikan doxycycline 200 mg per oral pasca tindakan dan 100 mg sebelum tindakan.








BIOPSI
A.    Pengertian
Mikrokuretase atau juga dikenal dengan istilah biopsi endometrium adalah pemeriksaan untuk menilai ciri, bentuk, dan besarnya sel selaput lendir rahim (endometrium). Mikrokuretase dilakukan dengan mengambil percontoh sel endometrium memakai kuret kecil khusus yang dimasukkan melalui saluran leher rahim (kanalis servikalis) ke dalam rongga rahim. Biopsi dapat dilakukan untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar ke leher rahim. . Biopsi dari vulva juga dapat dilakukan untuk melihat apakah kanker telah menyebar di sana.
·            Biopsi dapat dilakukan pada vulva-vagina atau servik
·            Pada endometrium biopsi dapat dilakukan dengan    D & C atau menggunakan metode “kuretase fraksional”.



 



      B.     Tujuan Biopsi
Suatu biopsi endometrium dilakukan untuk: 
1.Biopsi endometrium dapat dilakukan untuk membantu menentukan penyebab dari beberapa abnormal hasil pap test 
2.Menemukan penyebab pendarahan rahim berat, berkepanjangan, atau tidak teratur. Hal ini sering dilakukan untuk mengetahui penyebab perdarahan uterus pada wanita yang telah melalui menopause. 
3.Melihat apakah dinding rahim ( endometrium ) akan melalui perubahan siklus haid normal.
      C.    Indikasi
Ada sejumlah indikasi untuk memperoleh biopsi endometrium dalam wanita non-hamil: 
1.   Wanita dengan anovulasi kronis seperti polycystic ovary syndrome  akan meningkatkan risiko untuk masalah endometrium dan biopsi endometrium mungkin berguna untuk menilai mereka lapisan khusus untuk menyingkirkan hiperplasia endometrium  atau kanker. 
2.   Pada wanita dengan kelainan pendarahan vagina, biopsi dapat menunjukkan adanya lapisan abnormal seperti hiperplasia endometrium atau kanker 
3.   Pada pasien dengan dicurigai kanker rahim, biopsi dapat menemukan adanya sel kanker di endometrium atau leher rahim. 
4.   Pada wanita infertilitas penilaian lapisan dapat menentukan, jika benar waktunya, bahwa pasien ovulasi, Namun, informasi yang sama dapat diperoleh dengan tes darah progesterone level.
      D.    Cara kerja biopsy endometrium
Aturan persiapan untuk pasien:
1.Mikrokuretase biasanya dilakukan pada hari ke 21-22 siklus haid normal. 
2.Mikrokuretase dilakukan jika uji kehamilan menunjukkan hasil negatif karena terdapat risiko bahwa tindakan ini dapat meng-gangu kehamilan dini. 
3.Pasien tidak dalam keadaan demam tinggi, atau sakit berbahaya di alat kelamin (misal infeksi atau perdarahan vagina). 
4.Pasien diharuskan puasa sekurang-kurangnya 6 jam sebelum tindakan. 
5.Pasien harus mengosongkan kandung kemih sebelum tindakan. 
6.Untuk menghindari kecemasan, biasanya sebelum dilakukan tindakan pasien diberikan obat penenang, dan setelah tindakan diberikan obat pereda nyeri 
7.Setelah tindakan dan bilamana telah sadar dari pengaruh obat penenang, pasien boleh pulang dan periksa kembali ke dokter 2 minggu kemudian. 
8.Pasien mungkin akan mengalami kram ringan satu jam setelah tindakan (setelah khasiat obat penenang hilang), dan  juga mengalami bercak darah (spotting). Perdarahan ringan dan spotting dapat menetap hingga siklus haid berikutnya (sekitar 7 hari lagi).
       E.     Cara Pengambilan
Teknik Biopsi
a.  FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy) atau Si Bajah (Sitologi Biopsi Aspirasi Jarum Halus) → Menggunakan alat yang terdiri dari tabung suntik plastik ukuran 10 ml, jarum halus, gagang pemegang tabung suntik, kaca objek dan desinfektan alkohol atau betadin. Tumor dipegang lembut lalu jarum diinsersi segera ke dalam tumor. Piston di dalam tabung suntik ditarik ke arah proksimal; tekanan di dalam tabung menjadi negatif; jarum manuver mundur-maju. Dengan cara demikian sejumlah sel massa tumor masuk ke dalam lumen jarum suntik. Piston dalam tabung dikembalikan pads posisi semula dengan cara melepaskan pegangan. Aspirat dikeluarkan dan dibuat sediaan hapus, dikeringkan di udara dan dikirimkan ke laboratorium. Sering terjadi false negative karena kemungkinan jarum tidak tepat mengambil sel yang terkena kanker.
b.Stereotactic Needle Biopsy (Core Biopsy) → Dilakukan pada suatu gumpalan (bengkak) yang sulit untuk dilihat atau dirasakan. Jarum akan dituntun ke area yang dicurigai dengan bantuan mammography atau ultrasound, dan X-ray akan memastikan area yang ingin dibiopsi.
c. Incisional Biopsy → Seperti operasi pembedahan pada umumnya. Pengambilan irisan dari benjolan. Pada umumnya tipe ini dilakukan pada pembengkakan di jaringan ikat seperti otot.
d. Excisional Biopsy → Keseluruhan benjolan diambil. Sering dilakukan pada benjolan di dada. False negative jarang terjadi.





ABORSI
     A.    Pengertian
Pengertian aborsi menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008) adalah terpencarnya embrio yang tak mungkin lagi hidup (sebelum habis bulan keempat dari kehamilan). Pengertian aborsi menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana di Indonesia adalah :
·         Pengeluaran hasil konsepsi pada stadium perkembangannya sebelum masa kehamilan yang lengkap tercapai (38-40 minggu).
·         Pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan (berat kurang dari 500 gram atau kurang dari 20 minggu).
     B.     Macam-Macam Tindakan Aborsi dan Persiapannya
Aborsi yang aman bisa dilakukan dengan dua cara, yaknisurgical atau medical. Surgical atau tindakan yang di lakukan di klinik oleh dokter dengan alat-alat yang steril dengan metode tindakan yang di sesuaikan dengan usia kehamilan dan menggunakan alat-alat yang steril.
a.       Surgical Abortion
Berikut adalah tahapan proses melakukan aborsi surgical :
·   Adanya konseling pra-aborsi, melalui koseling ini pasien akan di jelaskan mengenai berbagai pilihan, resiko, dan kemungkinan komplikasi. Konseling ini bertujuan membantu pasien menentukan keputusan yang bijak. Perlu diingat melakukan aborsi adalah bukan suatu keputusan yang mudah karena di butuhkan mental, fisik dan finansial.
·   Kemudian dokter akan melakukan tes USG untuk mengetahui usia pasti kehamilan. Mengetahui usia pasti kehamilan penting untuk metode aborsi yang akan dilakukan, dokter juga akan memeriksa kondisi kesehatan pasien untuk memastikan tidak ada resiko besar selama dan setelah tindakan aborsi.
·   Secara umum pasien harus memperhatikan klinik yang dipilih, identifikasikan klinik tersebut apakah standar untuk sterilisasi alat sudah baik atau belum.
·   Gunakan hak sebagai klien untuk bertanya. Klinik yang baik dan pro hak perempuan akan memberikan penjelasan mengenai prosedur aborsi maupun mengenai kesehatan pasien.
·   Dokter akan mengatur jadwal check-up dua minggu atau sebulan setelah tindakan, jika dokter tidak memberikan jadwal check-up, maka pasien berhak memintanya.
·   Kontak intens dokter atau klinik paska tindakan aborsi jika di rasa ada keluhan.
b.      Medical Abortion
Aborsi medical adalah aborsi yang menggunakan obat-obatan campuran dari mifepristone dengan misoprostol dengan pengawasan dari dokter atau konselor ahli. Seperti halnya aborsi dengan metode surgical, konseling pra-aborsi sangat di perlukan baik dengan dokter atau konselor ahli untuk mengetahui informasi dosis, tata cara penggunaan, resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi. Selanjutnya :
·         Pastikan sebagai pasien, kita telah memberikan informasi yang benar mengenai usia kehamilan dan kondisi kesehatan karena pada kondisi kesehatan tertentu penggunaan obat ini harus di sertai dengan antibiotik, vitamin, atau obat-obat lainnya agar tidak memperburuk kondisi kesehatan pasien.
·         Lakukan USG untuk mengetahui usia kehamilan dengan pasti, karena penggunaan obat ini efektif hingga usia kehamilan 9 minggu. Penggunaan di atas 12 minggu harus dibawah pengawasan dan pendampingan dokter atau konselor ahli secara intensif untuk menyiapakan mental dengan berbagai kemungkinan yang terjadi.
·         Lakukan perencanaan yang matang sebelum melakukan aborsi. Pastikan jarak dari rumah sakit atau klinik tidak jauh kurang lebih satu jam untuk di jangkau.
·         Tidak meminumnya ketika sendirian, pastikan ada petugas medis atau orang kepercayaan yang bisa mengantar sewaktu-waktu jika harus dilarikan ke rumah sakit.
·         Lakukan pencatatan dari mulai mengkonsumsi obat, gejala apa yang di rasakan, dan kapan mulai terjadi pendarahan.
·         Perhatikan pendarahan yang terjadi dan gumpalan dari hasil konsepsi (proses pembuahan sel telur oleh sperma) yang keluar. Pendarahan biasanya akan berlangsung 2 sampai 3 minggu. Dengan memperhatikan proses ini pasien dapat mengetahui apakah aborsi sudah terjadi secara komplit atau tidak.
·         Jika beberapa hari setelah tindakan masi terasa nyeri akibat kontraksi, terjadi pendarahan hebat atau munculnya keputihan yang berbau. Itu pertanda pasien harus sesegera mungkin memeriksakan diri ke klinik. Jika berdasarkan laporan klinik masih ada jaringan yang tersisa maka pasien dapat mengambil dosis tambahan atau menjalani prosedur kuret.
      C.    Tindakan
Aborsi yang dilakukan seorang dokter atau bidan pada umumnya dilakukan sebagai berikut :
1.   Bayi dibunuh dengan cara ditusuk atau diremukkan didalam kandungan
2.   Bayi dipotong-potong tubuhnya agar mudah dikeluarkan
3.   Potongan bayi dikeluarkan satu persatu dari kandungan
4.   Potongan-potongan disusun kembali untuk memastikan lengkap dan tidak tersisa
5.   Potongan-potongan bayi kemudian dibuang ke tempat sampah / sungai, dikubur di
     tanah kosong, atau dibakar di tungku
(1)
(2)





KULTUR CAIRAN VAGINA
A.       Pengertian Kultur Cairan Vagina
Kultur cairan vagina adalah kultur terhadap cairan vagina untuk mendeteksi adanya jenis kuman atau bakteri pathogen. Salah satu contohnya yaitu kultur keputihan. Kultur Keputihan
Adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui jenis kuman atau bakteri penyebab keputihan patologis apabila dengan pengobatan biasa tidak membuat keputihan berkurang atau sembuh. Dengan adanya kultur, dapat menentukan pemberian terapy yang tepat untuk jenis bakteri atau kuman penyebab keputihan sehingga keputihan dapat disembuhkan.
Sangat baik dilakukan pada pasien yang belum pernah berhubungan atau senggama. Caranya, hanya mengambil cairan/lendir dari vagina dengan menggunakan swab tertentu yang kemudian dimasukkan ke cairan / sediaan tertentu yang kemudian dibawa ke laboratorium. Tidak menimbulkan rasa nyeri, hanya tidak nyaman sedikit dan harus rileks.
Hasil dapat diketahui lebih kurang 5 hari dan sebelum hasil keluar, dokter akan memberikan therapi sesuai dengan sympton/gejala. Berikut ini cara pengambilan cairan atau secret vagina.
B.        Prosedur Tindakan
a. Persiapan alat
1. Sarung tangan steril
2. Kapas lidi steril
3. Kassa steril
4. Larutan klorin 0,5%
5. Kapas Sublimat
6. Krim Antiseptik
7. Objek glass
8. Piring petri
9. 2 buah bengkok
10. Spekulum
11. Perlak
12. Dua buah wadah
13. Stetoskop
14. Celemek
15. Kain sekali pakai

b. Prosedur pengambilan cairan vagina :
1. Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan kepada klien.
2. Mempersiapkan alat dan bahan, mendekatkan kepada pasien.
3. Memasang sampiran.
4. Membuka atau menganjurkan pasien menanggalkan pakaian bawah (Tetap jaga Privasi 
pasien).
5. Mengasang perlak di bawah bokong pasien.
6. Mengatur posisi pasien dengan kaki ditekuk (dorsal recumbent).
7. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan handuk bersih.
8. Gunakan sarung tangan.
9. Buka labia mayora dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan yang tidak dominan.
10. Mengambil sekret Vagina dengan kapas lidi tangan yang dominan sesuai dengan kebutuhan
11. Menghapuskan sekret vagina pada objek glass yang disediakan.
12. Membuang kapas lidi dalam bengkok.
13. Masukan objek glass dalam piring petri atau kedalam tabung kimia dan di tutup.
14. Memberi label dan mengisi formulir pengiriman spesimen untuk dikirim  `ke laboratorium.
15. Membereskan alat.                     
16. Mencuci sarung tangan: klorin 0,5%, lepas sarung tangan secara terbalik dan rendam dalam klorin selama 10 menit.
17. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkannya dengan handuk bersih
18. Melakukan dokumentasi tindakan yang telah dilakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar