Pengertian
Menua
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang
terjadi di dalam kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang
hidup, tidak hanya di mulai dari suatu
waktu tertentu, tetapi dimuali sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan
proses alamiah, yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya,
yaitu anak, dewasa, dan tua (Nugroho, 2008 :11).
Ageing Proses ( proses menua) adalah suatu prses
menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki
diri/mengganti dan memepertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat
bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Azizah, 2011
: 7).
2.2.2
Pengelompokan
Lanjut Usia
a. Menurut
WHO lanjut usia dibagi dalam tahap yaitu :
1. Usia pertengahan (middle age)
45-59 tahun
2. Lanjut usia (elderly) 60-74
tahun
3. Lanjut usia tua 75-90 tahun
4. Usia sangat tua (Very old)
diatas 90 tahun (Nugroho, 2008 : 24).
b. Menurut
Prof. DR. Koesoemanto Setyonegoro, SpKJ, lanjut usia dikelompokkan sebagai
berikut :
1. Usia
dewasa muda (elderly adulthood) (
usia 18/20-25 tahun)
2. Usia
dewasa penuh ( middle years) atau
maturitas ( usia 25-60/65 tahun)
3. Lanjut
usia ( geriatric age ) (usia lebih dari 65/70 tahun), terbagi :
a. Usia
70-75 tahun (young old)
b. Usia
70-80 tahun (old)
c. Usia
lebih dari 80 tahun ( very old ) (
Nugroho, 2008 : 24-25).
c. Menurut
UU No. 4 tahun 1965 pasal 1 seorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau
lanjut usia setelah yag bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai
atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari
dan menerima nafkah dari orang lain. UU No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan
lansia bahwa lansia adalah seorang yang mencapai usia 60 tahun keatas ( Azizah,
2011 : 2 ).
2.2.3
Teori
Penuaan
Teori-teori
yang menjelaskan bagaimana dan mengapa penuaan terjadi biasanya dikelompokan ke
dalam dua kelompok besar, yaitu teori biologis dan teori psikososial.
1. Teori
Biologis
Teori biologis
mencoba untuk menjelaskan proses fisik penuaan, termasuk perubahan fungsi dan struktur pengembangan,
panjang usia dan kematian. Teori biologis terdiri dari :
a. Teori
Genetika
Teori sebab akibat menjelaskan
bahwa penuaan terutama di pengaruhi oleh pembentukan gen dan dampak lingkungan
pada pembentukan kode genetik. Menurut teori genetika adalah suatu proses yang
secara tidak sadar diwariskan yang berjalan dari waktu ke waktu mengubah sel
atau struktur jaringan. Dengan kata lain, perubahan rentang hidup dan panjang
usia ditentukan sebelumnya (Stanley & Beare, 2006 : 12).
b. Teori
Wear-and-Tear
Teori Wear-and- Tear (dipakai dan
rusak) mengusulkan bahwa akumulasi sampah metabolik atau zat nutrisi dapat
merusak sintensis DNA, sehingga mendorong malfungsi organ tubuh. Pendukung
teori ini percaya bahwa tubuh akan mengalami kerusakan berdasarkan suatu
jadwal. Sebagai contoh adalah radikal bebas, radikal bebas dengan cepat
dihancurkan oleh sistem enzim pelindug pada kondisi normal (Stanley &
Beare, 2006 : 12).
c. Riwayat
Lingkungan
Menurut teori ini, faktor-faktor di
dalam lingkungan (misalnya karsinogen dari industri, cahaya matahari, trauma,
dan infeksi) dapat membawa perubahan dalam proses penuaan. Walaupun
faktor-faktor diketahui dapat mempercepat penuaan, dampak dari lingkungan lebih
merupakan dampak sekunder dan bukan merupakan faktor utama dalam penuaan
(Stanley & Beare, 2006 : 13).
d. Teori
Imunitas
Teori ini menggambarkan suatu
kemunduran dalam sistem imun yang berhubungan dengan penuaan. Ketika orang
bertambah tua, pertahanan meraka terhadap organisme asing mengalami penurunan,
sehingga mereka lebih rentan untuk menderita berbagai penyakit seperti kanker
dan infeksi (Stanley & Beare, 2006 : 13).
e. Teori
Neouroendokrin
Para ahli telah memikirkan bahwa
penuaan terjadi oleh karena adanya suatu perlambatan dalam sekresi hormon
tertentu yang mempunyai suatu dampak pada reaksi yang teratur oleh sistem
saraf(Stanley & Beare, 2006 : 13).
2. Teori
Psikososiologis
Teori psikososiologis memusatkan
perhatian pada perubahan sikap dan prilaku yang menyertai peningkatan usia, sebagai
lawan dari implikasi biologi pada kerusakan anatomis. Beberapa teori tentang
psikososiologis yaitu :
a. Teori
Kepribadian
Teori kepribadian menyebutkan
aspek-aspek pertumbuhan psikologis tanpa menggambarkan harapan atau tugas
spesifik lansia. Teori pengembangan kepribadian orang dewasa yang memandang
kepribadian sebagai ekstrovert atau introvert. Penuaan yang sehat tidak
bergantung pada jumlah aktifitas sosial seseorang, tetapi pada bagaimana
kepuasan orang tersebut dengan aktifitas sosial yang dilakukan (Stanley &
Beare, 2006 : 14).
b. Teori
Tugas Perkembangan
Tugas perkembangan adalah aktifitas
dan tantangan yang harus dipenuhi oleh seseorang pada kehidupan tahap-tahap
spesifik dalam hidupnya untuk mencapai penuaan yang sukses. Tugas utama lansia adalah
mampu memperlihatkan kehidupan seseorang
sebagai kehidupan yang dijalani
dengan integritas. Pada kondisi ini tidak hanya pencapaian perasaan bahwa ia
telah menikmati kehidupan yang baik, maka lansia tersebut berisiko untuk
disibukkan dengan rasa penyesalan atau putus asa (Stanley & Beare, 2006 :
15).
c. Teori
Disengagement
Teori disengagment (teori pemutusan
hubungan), menggambarkan proses penarikan diri oleh lansia dari peran
masyarakat dan tanggung jawabnya. Proses penarikan diri ini dapat diprediksi,
sistematis, tidak dapat dihindari, dan penting untuk fungsi yang tepat dari
masyarakat yang sedang tumbuh. Lansia dikatakan bahagia apabila kontak sosial
berkurang dan tanggung jawab telah diambil oleh generasi lebih muda (Stanley
& Beare, 2006 : 15).
d. Teori
Aktivitas
Lawan langsung dari teori
disengagement adalah teori aktifitas penuaan, yang berpendapat bahwa jalan
menuju penuaan yang sukses adalah dengan cara tetap aktif. Gagasan pemenuhan
kebutuhan seseorang harus seimbang dengan pentingnya perasaan dibutuhkan orang
lain. Kesempatan untuk berperan dengan cara yang penuh arti bagi kehidupan
seseorang yang penting bagi kehidupan dirinya adalah suatu komponen
kesejahteraan yang penting bagi lansia (Stanley & Beare, 2006 : 15).
e. Teori
Kontinuitas
Teori kontiunitas, juga dikenal
sebagai suatu teori perkembangan, merupakan suatu kelanjutan dari kedua teori
sebelumnya dan mencoba untuk menjelaskan dampak kepribadian pada kebutuhan
untuk tetap aktif atau memisahkan diri agar mencapai kebahagian dan terpenuhinya
kebutuhan diusia tua (Stanley & Beare, 2006 : 15).
2.2.4
Tugas
Perkembangan Lanjut Usia
Seiring
tahap kehidupan, lansia memiliki tgas perkembangan khusus. Hal ini
dideskripsikan oleh Burnside (1979), Duvall (1977) dan Havighurst (1953)
dikutip oleh Pitter dan Perry (2005) dalam Azizah (2011). Tujuh kategori utama
tugas perkembangan lansia meliputi :
1. Menyesuaikan
terhadap penurunan kekuatan fisik dan kesehatan.
Lansia harus
menyesuaikan dengan perubahan fisik seiring terjadinya penuaan sistem tubuh, perubahan
penampilan dan fungsi. Hal ini tidak dikaitkan dengan penyakit, tetapi hal ini
adalah normal. Bagaimana kesehatan dam mencegah penyakit dengan pola hidup
sehat.
2. Menyesuaikan
terhadap masa pensiun dan penurunan pendapatan
Lansia umumnya pensiun
dari pekerjaan purna waktu, dan oleh karena itu mungkin perlu untuk
menyesuaikan dan membuat perubahan karena hilangnya peran bekerja.
Bagaimanapun, karena pensiunan ini biasanya telah diantisipasi, seseorang dapat
berencana ke depan untuk berpartisipasi dalam konsultasi atau aktivitas
sukarela, mencari minat dan hobi baru, dan melanjutkan pendidikannya. Meskipun
kebanyakan lansia di atas garis kemiskinan, sumber financial secara jelas
mempengaruhu permasalahan dalam masa pensiun.
3. Menyesuaikan
terhadap kematian pasangan.
Mayoritas
lansia dihadapkan pada kematian pasangan, teman, dan kadang anaknya. Kehilangan
ini sering sulit di selesaikan, apalagi bagi lansia yang menggantungkan
hidupnya dari seseorang yang meninggalkannya dan sangat berarti bagi dirinya.
Dengan membantu lansia melalui proses berduka, dapat membantu mereka
menyesuaikan diri terhadap kehilangan.
4.
Menerima diri sendiri sebagai individu
lansia.
Beberapa
lansia menemukan kesulitan untuk menerima diri sendiri selama penuaan. Mereka
dapat memperlihatkan ketidakmampuannya sebagai koping dengan menyangkal
penurunan fungsi, meminta cucunya untuk tidak memanggil mereka “nenek” atau
menolak memminta abntuan dalam tugas yang menempatkan keamanan mereka pada
resiko yang besar.
5.
Mempertahankan kepuasan pengaturan
hidup.
Lansia
yang mengubah rencana kehidupannya. Misalnya, kerusakan fisik dapat
mengharuskan pindah ke rumah yang lebih kecil dan untuk seorang diri. Beberapa
masalah kesehatan lain mungkin mengharuskan lansia untuk tinggal dengan
keliarga atau temannya. Perubahan rencana kehidupan bagi lanisa mungkin
membutuhkan periode penyesuaian yang lama selama lansia memerlukan bantuan dan
dukungan profesional perawat kesehatan dan keluarga.
6.
Mendefinisikan ulang hubungan dengan
anak yang dewasa.
Lansia sering memerlukan penetapan
hubungan kembali dengan anak-anaknya yang telah dewasa. Masalah keterbalikan
peran, ketergantungan, konflik, perasaan bersalah, dan kehilangan memerlukan
pengenalan resolusi.
7.
Menentukan cara untuk mempertahankan
kualitas hidup.
Lansia harus belajar menerima
aktivitas dan minat baru untuk mempertahankan kualitas hidupnya. Seseorang yang
sebelumnya aktif secara sosial sepanjang hidupnya mungkin merasa relatif mudah
untuk bertemu orang baru dan mendapatkan minat baru. Akan tetapi, seseorang
yang introvert dengan sosialisasi
terbatas, mungkin menemui kesulitan bertemu orang baru selama pensiun.
2.2.5
Perubahan
Akibat Proses Menua
Perubahan Fisik
1. Sistem
Persarafan
Pada proses menua terjadi beberapa
perubahan pada sistem persarafan, yaitu :
a. Berat
otak menurun 10-20% (sel saraf otak setiap orang berkurang setia harinya)
b. Respon
dan waktu bereaksi lambat , khususnya terhadap stress
c. Saraf
panca indra mengecil
d. Defisit
memori
e. Kurang
sensitif terhadap sentuhan (Nugroho,
2008 : 27).
2. Sistem
Penglihatan
Perubahan sistem penglihatan pada
lansia erat kaitannya dengan presbiopi, sesorang sulit melihat pada jarak yang
dekat yang dipengaruhi oleh elastisitas lensa. Lensa lebih suram (kekeruhan
pada lensa), menjadi katarak sehingga menyebabkan gangguan pengihatan. Sfingter
pupil timbul sklerosis dan respon terhadap sinar menghilang (Nugroho, 2008 :
28).
3. Sistem
kardiovaskular
Pada usia lanjut pembuluh darah
akan mengalami penurunan elastisitas, katup jantung menebal dan menjadi kaku,
elastisitas dinding aorta menurun, efektifitas pembuluh darah perifer untuk
oksigenasi juga berkurang. Begitu pula pada kemampuan jantung untuk memompa
darah akan menurun 1% setiap tahun sesudah umur 20 tahun, hal ini menyebabkan
kontraksi dan volume menurun ( frekuensi denyut jantung maksimal = 200-umur),
kinerja jantung akan lebih rentan terhadap kondisi dehidrasi dan perdarahan
(Nugroho, 2008 : 29).
4. Sistem
Pendengaran
Hilangnya daya pendengaran pada
telinga dalam, erutama terhadap bunyi suara atau nada yang tinggi, suara yang
tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia lanjut diatas umur
65 tahun. Terjadi pengumpulan serumen dapat mengeras karena meningkatnya
keratin, membran tympani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis. Fungsi
pendengaran kan semakin menurun pada lansia yang mengalami ketegangan atau
stress (Nugroho, 2008 : 27).
5. Sitem
Pernafasan
a. Otot
pernafasan mengalami kelemahan akibat atrofi, kehilangan kekuatan dan menjadi
kaku
b. Paru
kehilangan eastisitasnya, kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih
berat,kapasitas pernapasan maksimum menurun dengan kedalaman bernafas menurun
c. Ukuran
alveoli melebar dan jumlah berkurang serta menurunnya leastisitas bronkus
d. Sensitivitas
terhadap hipoksia dan hiperkarbia menurun
e. Pertukaran
gas terganggu (Nugroho, 2008 : 29).
6. Sistem
Pengaturan Suhu Tubuh
Pada pengaturan suhu, hipotalamus
dianggap bekerja sebagai sutau termostat, yaitu menetapkan suatu suhu tertentu.
Kemundurran terjadi berbagai faktor yang mempengaruhinya, seperti:
a. Temperatur
tubh menurun(hipotermi) secara fisiologis ±35°C ini akibat dari metabolisme
yang menurun
b. Pada
kondisi ini lanisa akan merasa kedinginan dan dapat pula menggigil, pucat dan
gelisah
c. Keterbatasan
refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga
terjadi penurunan aktivitas otot (Nugroho, 2008 : 29).
7. Sistem
Pencernaan
Kehilangan gigi merupakan penyebab
utama periodontal disease yang
dialami pada orang yang berumul diatas 30 tahun. Fungsi indra pengecap yang
menurun, hilangnya sensitofitas saraf pengecap lidah terutama rasa manis dan
asin sehingga lansia mengalami penurunan rasa lapar. Fungsi absorpsi melemah
dan peristaltik melemah sehingga biasanya timbul konstipasi (Nugroho, 2008 : 30).
8. Sistem
Reproduksi
a. Wanita
1. Vagina
mengalami kontraktur dan mengecil
2. Ovari
menciut, uterus mengakami atrofi
3. Atrofi
payudara dan vulva
4. Selaput
lendir vagna mnurun, permukaan menjad halus, sekresi berkurang, sifatnya mnjadi
alkali dan terjadi perubahan warna
b. Pria
1. Testis
masih dapat memproduksi spermatozoa, meskipun ada penurunan secara
berangsur-angsur
2. Dorongan
seksual masih menetap sampai usia diatas 70 tahun asalkan kondisi kesehatannya
baik
3. Sebanyak
75% pria usia diatas 65 tahun mengalami pembesaran prostat (Nugroho, 2008 : 31).
9. Sistem
Genitourinaria
Pada sistem
genitourinaria terjadi penurunan kemampuan mengonsentrasi urine, berat jenis
urine juga menurun, hal itu disebabkan karena mengecilnya nefron akibat atrofi,
aliran darah ke ginjal menurun sampai 50% sehingga fungsi tubulus berkurang.
Keseimbangan elektrolit dan asaam lebih mudah terganggu bila dibandingkan
dengan usia muda (Nugroho, 2008 : 31).
10. Sistem
Endrokin
Terjadi penurunan produksi hormon,
produksi aldosteron menurun, sekresi hormon kelamin juga menurun. Kelenjar
adrenal yang memproduksi adrenalin, salah astau kelenjar yang mengatur agar
aliran darah ke orrgan tubuh tetap berjalan dengan baik akan berkurang pada
lanjut usia (Nugroho, 2008 : 32).
11. Sistem
Muskuloskeletal
a. Tulang
kehilangan densitas ( cairan) dan semakin rapuh
b. Persendian
membesar dan menjadi kaku
c. Kekuatan
dan stabilitas tulang menurun, terutama vertebra, pergelangan, dan paha. Insiden
osteoporosis dan fraktur meningkat
d. Kifosis
e. Gerakan
pinggang, lutut dan jarijari pergelangan terbatas
f. Atrofi
seranut otot, serabut otot mengecil sehingga gerakan menjadi lamban, otot kram
dan kemungkinan tremor
g. Komposisi
otot berubah sepanjan waktu (Nugroho, 2008 : 33)
Perubahan Mental
Pada
aspek psikis lansia perubahan dapat berupa sikap yang semakin egosentrik, mudah
curiga, berambah pelit atau tamak. Yang perlu dipahami adalah sikap umum yang
ditemukan paa hampir setiap lanjut usia yakni keinginan berumur panjang,
tenaanya sedapat mungkin dihemat, mengharapkan tetap diberi peranan dalam
masyarakat. (Nugroho, 2008 : 34).
2. Perubahann psikososial
Nilai
sesorang sering diukur melalui produktivitasnya dan identitasnya dikaitkan
dengan peranan dalam pekerjaan. Bila mengalami pensiun, seseorang akan
mengalami kehilangan, antara lain :
1. Kehilangan
finansial dan statusnya
2. Kehilangan
pekerjaan atau kegiatannya
3. Merasakan
atau sadar terhadap kematian, perubahan cara hidu
4. Hilangnya
kemampuan dan ketegapan fisik ( perubahan konsep diri)
5. Timbul
kesepian akibat pengasingan dari lingkungan sosial
6. Kehilangan
hubungan dengan teman dan famili (Nugroho, 2008 : 35).
Perubahan Spiritual
Lanjut
usia semakin matur dalam kehidupan keagamaannya. Hal ini terlihat dalam
berpikir dan bertindak sehari-hari. Perkembangan spiritual pada lansia dengan
usia diatas 70 tahun menurut Folwer (1978) dalam Nugroho (2008), perkembangan
yang dicapai pada tingkat ini adalah berpikir dan bertindak dengan cara memberi
contoh cara mencintai dan keadilan (Nugroho, 2008 : 36).