Kamis, 31 Desember 2015

Alat Permainan Edukatif (APE) Bayi Usia 0-3 Bulan



A.        Pengertian Alat Permainan Edukatif (APE)
Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak sesuai usia dan tingkat perkembangannya dan yang berguna untuk pengembangan aspek fisik, bahasa, kognitif, dan sosial anak (Soetjiningsing, 1995).
Untuk memberikan stimulus untuk berbagai aspek perkembangan, maka diperlukan alat permainan yang bervariasi.Permainan yang monoton membuat anak merasa bosan atau jenuh.Misalnya, bermain pasir atau krayon perlu diselingi dengan aktivitas otot seperti bermain tali, naik sepeda, dan lain-lain.Dengan aktivitas bermain yang bervariasi diharapkan ada keseimbangan antara bermain aktif dan bermain pasif. Bermain aktif merupakan aktivitas bermain yang membuat anak memperoleh kesenangan dan yang dilakukan sendiri, misalnya dengan:
a)   Mengamati atau menyelidiki (exploratory play), misalnya memeriksa, memperhatikan, mencium, menekan, dan kadang berusaha membongkar alat permainan.
b)   Membangun (construction play), misalnya berusaha untuk menyusun balok-balok menjadi bentuk rumah, mobil dan lain-lain.
c)   Bermain peran (Dramtic play), misalnya bermain sandiwara, rumah-rumahan, dan boneka
d)  Bermain bola voli, sepak bola, dan lain-lain.
B.        Alat permainan edukatif untuk bayi usia 0-3 bulan
                Perkembangan motorik adalah suatu proses tumbuh kembang dan kemampuan gerak seorang anak. Secara umum perkembangan motorik dibagi dua yaitu : motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar merupakan aktifitas motor gerakan keterampilan yang melibatkan otot-otot besar, seperti tengkurap, duduk, merangkak dan mengangkat leher. Gerakan ini terjadi pada tahun pertama usia anak. Motorik halus merupakan aktifitas keterampilan yang melibatkan gerakan otot-otot kecil, seperti: menggambar, meronce manik-manik, menulis dan makan. Kemampuan ini berkembang setelah kemampuan motoric kasar berkembang
Pada usia 0-3 bulan, umumnya aktifitas motoric anak antara lain:
a.       Memfokuskan matanya, memalingkan wajah ke kiri dan ke kanan
b.      Menggerakkan tangan dan kaki
c.       Memandangi dan tersenyum
d.      Memasukkan benda kedalam mulutnya
e.       Mendengarkan suara
f.       Menjejakkan kaki dan menggerakkan anggota badan lainnya
Mainan edukatif untuk bayi 0-3 bulan untuk menstimulasi kecerdasan
Mainan edukatif untuk bayi 0-3 bulan sangatlah penting bagi perkembangan bayi.Mainan edukatif 0-3 bulan ini memiliki manfaat untuk menstimulus atau memberi rangsang agar perkembangan dan pertumbuhannya bisa lebih optimal. Mainan bermanfaat untuk melatih gerak refleks anak, perkembangan otak dan lain-lain


Untuk Selanjutnya Kunjungi Jenis APE

Rabu, 30 Desember 2015

Konsep lanjut Usia



 Pengertian Menua
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak  hanya di mulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimuali sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan tua (Nugroho, 2008 :11).
Ageing Proses ( proses menua) adalah suatu prses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan memepertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Azizah, 2011 : 7).
2.2.2        Pengelompokan Lanjut Usia
a.    Menurut WHO lanjut usia dibagi dalam tahap yaitu :
1. Usia pertengahan (middle age) 45-59 tahun
2. Lanjut usia (elderly) 60-74 tahun
3. Lanjut usia tua 75-90 tahun
4. Usia sangat tua (Very old) diatas 90 tahun (Nugroho, 2008 : 24).
b.    Menurut Prof. DR. Koesoemanto Setyonegoro, SpKJ, lanjut usia dikelompokkan sebagai berikut :
1.      Usia dewasa muda (elderly adulthood) ( usia 18/20-25 tahun)
2.      Usia dewasa penuh ( middle years) atau maturitas ( usia 25-60/65 tahun)
3.      Lanjut usia ( geriatric age ) (usia lebih dari 65/70 tahun), terbagi :
a.       Usia 70-75 tahun (young old)
b.      Usia 70-80 tahun (old)
c.       Usia lebih dari 80 tahun ( very old ) ( Nugroho, 2008 : 24-25).
c.    Menurut UU No. 4 tahun 1965 pasal 1 seorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah yag bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain. UU No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia bahwa lansia adalah seorang yang mencapai usia 60 tahun keatas ( Azizah, 2011 : 2 ).
2.2.3        Teori Penuaan
Teori-teori yang menjelaskan bagaimana dan mengapa penuaan terjadi  biasanya dikelompokan ke dalam dua kelompok besar, yaitu teori biologis dan teori psikososial.
1.    Teori Biologis
Teori biologis mencoba untuk menjelaskan proses fisik penuaan, termasuk  perubahan fungsi dan struktur pengembangan, panjang usia dan kematian. Teori biologis terdiri dari :
a.       Teori Genetika
Teori sebab akibat menjelaskan bahwa penuaan terutama di pengaruhi oleh pembentukan gen dan dampak lingkungan pada pembentukan kode genetik. Menurut teori genetika adalah suatu proses yang secara tidak sadar diwariskan yang berjalan dari waktu ke waktu mengubah sel atau struktur jaringan. Dengan kata lain, perubahan rentang hidup dan panjang usia ditentukan sebelumnya (Stanley & Beare, 2006 : 12).
b.      Teori Wear-and-Tear
Teori Wear-and- Tear (dipakai dan rusak) mengusulkan bahwa akumulasi sampah metabolik atau zat nutrisi dapat merusak sintensis DNA, sehingga mendorong malfungsi organ tubuh. Pendukung teori ini percaya bahwa tubuh akan mengalami kerusakan berdasarkan suatu jadwal. Sebagai contoh adalah radikal bebas, radikal bebas dengan cepat dihancurkan oleh sistem enzim pelindug pada kondisi normal (Stanley & Beare, 2006 : 12). 
c.       Riwayat Lingkungan
Menurut teori ini, faktor-faktor di dalam lingkungan (misalnya karsinogen dari industri, cahaya matahari, trauma, dan infeksi) dapat membawa perubahan dalam proses penuaan. Walaupun faktor-faktor diketahui dapat mempercepat penuaan, dampak dari lingkungan lebih merupakan dampak sekunder dan bukan merupakan faktor utama dalam penuaan (Stanley & Beare, 2006 : 13).
d.      Teori Imunitas
Teori ini menggambarkan suatu kemunduran dalam sistem imun yang berhubungan dengan penuaan. Ketika orang bertambah tua, pertahanan meraka terhadap organisme asing mengalami penurunan, sehingga mereka lebih rentan untuk menderita berbagai penyakit seperti kanker dan infeksi (Stanley & Beare, 2006 : 13).
e.       Teori Neouroendokrin
Para ahli telah memikirkan bahwa penuaan terjadi oleh karena adanya suatu perlambatan dalam sekresi hormon tertentu yang mempunyai suatu dampak pada reaksi yang teratur oleh sistem saraf(Stanley & Beare, 2006 : 13). 
2.    Teori Psikososiologis
Teori psikososiologis memusatkan perhatian pada perubahan sikap dan prilaku yang menyertai peningkatan usia, sebagai lawan dari implikasi biologi pada kerusakan anatomis. Beberapa teori tentang psikososiologis yaitu :  
a.       Teori Kepribadian
Teori kepribadian menyebutkan aspek-aspek pertumbuhan psikologis tanpa menggambarkan harapan atau tugas spesifik lansia. Teori pengembangan kepribadian orang dewasa yang memandang kepribadian sebagai ekstrovert atau introvert. Penuaan yang sehat tidak bergantung pada jumlah aktifitas sosial seseorang, tetapi pada bagaimana kepuasan orang tersebut dengan aktifitas sosial yang dilakukan (Stanley & Beare, 2006 : 14).
b.      Teori Tugas Perkembangan
Tugas perkembangan adalah aktifitas dan tantangan yang harus dipenuhi oleh seseorang pada kehidupan tahap-tahap spesifik dalam hidupnya untuk mencapai penuaan yang sukses. Tugas utama lansia adalah mampu memperlihatkan kehidupan seseorang  sebagai kehidupan  yang dijalani dengan integritas. Pada kondisi ini tidak hanya pencapaian perasaan bahwa ia telah menikmati kehidupan yang baik, maka lansia tersebut berisiko untuk disibukkan dengan rasa penyesalan atau putus asa (Stanley & Beare, 2006 : 15).
c.    Teori Disengagement
Teori disengagment (teori pemutusan hubungan), menggambarkan proses penarikan diri oleh lansia dari peran masyarakat dan tanggung jawabnya. Proses penarikan diri ini dapat diprediksi, sistematis, tidak dapat dihindari, dan penting untuk fungsi yang tepat dari masyarakat yang sedang tumbuh. Lansia dikatakan bahagia apabila kontak sosial berkurang dan tanggung jawab telah diambil oleh generasi lebih muda (Stanley & Beare, 2006 : 15).
d.   Teori Aktivitas
Lawan langsung dari teori disengagement adalah teori aktifitas penuaan, yang berpendapat bahwa jalan menuju penuaan yang sukses adalah dengan cara tetap aktif. Gagasan pemenuhan kebutuhan seseorang harus seimbang dengan pentingnya perasaan dibutuhkan orang lain. Kesempatan untuk berperan dengan cara yang penuh arti bagi kehidupan seseorang yang penting bagi kehidupan dirinya adalah suatu komponen kesejahteraan yang penting bagi lansia (Stanley & Beare, 2006 : 15).
e.       Teori Kontinuitas
Teori kontiunitas, juga dikenal sebagai suatu teori perkembangan, merupakan suatu kelanjutan dari kedua teori sebelumnya dan mencoba untuk menjelaskan dampak kepribadian pada kebutuhan untuk tetap aktif atau memisahkan diri agar mencapai kebahagian dan terpenuhinya kebutuhan diusia tua (Stanley & Beare, 2006 : 15).
2.2.4        Tugas Perkembangan Lanjut Usia
Seiring tahap kehidupan, lansia memiliki tgas perkembangan khusus. Hal ini dideskripsikan oleh Burnside (1979), Duvall (1977) dan Havighurst (1953) dikutip oleh Pitter dan Perry (2005) dalam Azizah (2011). Tujuh kategori utama tugas perkembangan lansia meliputi :
1.      Menyesuaikan terhadap penurunan kekuatan fisik dan kesehatan.
Lansia harus menyesuaikan dengan perubahan fisik seiring terjadinya penuaan sistem tubuh, perubahan penampilan dan fungsi. Hal ini tidak dikaitkan dengan penyakit, tetapi hal ini adalah normal. Bagaimana kesehatan dam mencegah penyakit dengan pola hidup sehat.
2.      Menyesuaikan terhadap masa pensiun dan penurunan pendapatan
Lansia umumnya pensiun dari pekerjaan purna waktu, dan oleh karena itu mungkin perlu untuk menyesuaikan dan membuat perubahan karena hilangnya peran bekerja. Bagaimanapun, karena pensiunan ini biasanya telah diantisipasi, seseorang dapat berencana ke depan untuk berpartisipasi dalam konsultasi atau aktivitas sukarela, mencari minat dan hobi baru, dan melanjutkan pendidikannya. Meskipun kebanyakan lansia di atas garis kemiskinan, sumber financial secara jelas mempengaruhu permasalahan dalam masa pensiun.
3.      Menyesuaikan terhadap kematian pasangan.
Mayoritas lansia dihadapkan pada kematian pasangan, teman, dan kadang anaknya. Kehilangan ini sering sulit di selesaikan, apalagi bagi lansia yang menggantungkan hidupnya dari seseorang yang meninggalkannya dan sangat berarti bagi dirinya. Dengan membantu lansia melalui proses berduka, dapat membantu mereka menyesuaikan diri terhadap kehilangan.
4.         Menerima diri sendiri sebagai individu lansia.
Beberapa lansia menemukan kesulitan untuk menerima diri sendiri selama penuaan. Mereka dapat memperlihatkan ketidakmampuannya sebagai koping dengan menyangkal penurunan fungsi, meminta cucunya untuk tidak memanggil mereka “nenek” atau menolak memminta abntuan dalam tugas yang menempatkan keamanan mereka pada resiko yang besar.
5.         Mempertahankan kepuasan pengaturan hidup.
Lansia yang mengubah rencana kehidupannya. Misalnya, kerusakan fisik dapat mengharuskan pindah ke rumah yang lebih kecil dan untuk seorang diri. Beberapa masalah kesehatan lain mungkin mengharuskan lansia untuk tinggal dengan keliarga atau temannya. Perubahan rencana kehidupan bagi lanisa mungkin membutuhkan periode penyesuaian yang lama selama lansia memerlukan bantuan dan dukungan profesional perawat kesehatan dan keluarga.
6.         Mendefinisikan ulang hubungan dengan anak yang dewasa.
Lansia sering memerlukan penetapan hubungan kembali dengan anak-anaknya yang telah dewasa. Masalah keterbalikan peran, ketergantungan, konflik, perasaan bersalah, dan kehilangan memerlukan pengenalan resolusi.

7.            Menentukan cara untuk mempertahankan kualitas hidup.
Lansia harus belajar menerima aktivitas dan minat baru untuk mempertahankan kualitas hidupnya. Seseorang yang sebelumnya aktif secara sosial sepanjang hidupnya mungkin merasa relatif mudah untuk bertemu orang baru dan mendapatkan minat baru. Akan tetapi, seseorang yang introvert dengan sosialisasi terbatas, mungkin menemui kesulitan bertemu orang baru selama pensiun.
2.2.5        Perubahan Akibat Proses Menua
Perubahan Fisik
1.      Sistem Persarafan
Pada proses menua terjadi beberapa perubahan pada sistem persarafan, yaitu :
a.       Berat otak menurun 10-20% (sel saraf otak setiap orang berkurang setia harinya)
b.      Respon dan waktu bereaksi lambat , khususnya terhadap stress
c.       Saraf panca indra mengecil
d.      Defisit memori
e.       Kurang sensitif terhadap sentuhan  (Nugroho, 2008 : 27).
2.      Sistem Penglihatan
Perubahan sistem penglihatan pada lansia erat kaitannya dengan presbiopi, sesorang sulit melihat pada jarak yang dekat yang dipengaruhi oleh elastisitas lensa. Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa), menjadi katarak sehingga menyebabkan gangguan pengihatan. Sfingter pupil timbul sklerosis dan respon terhadap sinar menghilang (Nugroho, 2008 : 28).
3.      Sistem kardiovaskular
Pada usia lanjut pembuluh darah akan mengalami penurunan elastisitas, katup jantung menebal dan menjadi kaku, elastisitas dinding aorta menurun, efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi juga berkurang. Begitu pula pada kemampuan jantung untuk memompa darah akan menurun 1% setiap tahun sesudah umur 20 tahun, hal ini menyebabkan kontraksi dan volume menurun ( frekuensi denyut jantung maksimal = 200-umur), kinerja jantung akan lebih rentan terhadap kondisi dehidrasi dan perdarahan (Nugroho, 2008 : 29).
4.      Sistem Pendengaran
Hilangnya daya pendengaran pada telinga dalam, erutama terhadap bunyi suara atau nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia lanjut diatas umur 65 tahun. Terjadi pengumpulan serumen dapat mengeras karena meningkatnya keratin, membran tympani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis. Fungsi pendengaran kan semakin menurun pada lansia yang mengalami ketegangan atau stress (Nugroho, 2008 : 27).
5.      Sitem Pernafasan
a.       Otot pernafasan mengalami kelemahan akibat atrofi, kehilangan kekuatan dan menjadi kaku
b.      Paru kehilangan eastisitasnya, kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih berat,kapasitas pernapasan maksimum menurun dengan kedalaman bernafas menurun
c.       Ukuran alveoli melebar dan jumlah berkurang serta menurunnya leastisitas bronkus
d.      Sensitivitas terhadap hipoksia dan hiperkarbia menurun
e.       Pertukaran gas terganggu (Nugroho, 2008 : 29).
6.      Sistem Pengaturan Suhu Tubuh
Pada pengaturan suhu, hipotalamus dianggap bekerja sebagai sutau termostat, yaitu menetapkan suatu suhu tertentu. Kemundurran terjadi berbagai faktor yang mempengaruhinya, seperti:
a.       Temperatur tubh menurun(hipotermi) secara fisiologis ±35°C ini akibat dari metabolisme yang menurun
b.      Pada kondisi ini lanisa akan merasa kedinginan dan dapat pula menggigil, pucat dan gelisah
c.       Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi penurunan aktivitas otot (Nugroho, 2008 : 29).
7.      Sistem Pencernaan
Kehilangan gigi merupakan penyebab utama periodontal disease yang dialami pada orang yang berumul diatas 30 tahun. Fungsi indra pengecap yang menurun, hilangnya sensitofitas saraf pengecap lidah terutama rasa manis dan asin sehingga lansia mengalami penurunan rasa lapar. Fungsi absorpsi melemah dan peristaltik melemah sehingga biasanya timbul konstipasi (Nugroho, 2008 : 30).

8.      Sistem Reproduksi
a.       Wanita
1.    Vagina mengalami kontraktur dan mengecil
2.    Ovari menciut, uterus mengakami atrofi
3.    Atrofi payudara dan vulva
4.    Selaput lendir vagna mnurun, permukaan menjad halus, sekresi berkurang, sifatnya mnjadi alkali dan terjadi perubahan warna
b.      Pria
1.    Testis masih dapat memproduksi spermatozoa, meskipun ada penurunan secara berangsur-angsur
2.    Dorongan seksual masih menetap sampai usia diatas 70 tahun asalkan kondisi kesehatannya baik
3.    Sebanyak 75% pria usia diatas 65 tahun mengalami pembesaran prostat (Nugroho, 2008 : 31).
9.      Sistem Genitourinaria
Pada sistem genitourinaria terjadi penurunan kemampuan mengonsentrasi urine, berat jenis urine juga menurun, hal itu disebabkan karena mengecilnya nefron akibat atrofi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50% sehingga fungsi tubulus berkurang. Keseimbangan elektrolit dan asaam lebih mudah terganggu bila dibandingkan dengan usia muda (Nugroho, 2008 : 31).

10.  Sistem Endrokin
Terjadi penurunan produksi hormon, produksi aldosteron menurun, sekresi hormon kelamin juga menurun. Kelenjar adrenal yang memproduksi adrenalin, salah astau kelenjar yang mengatur agar aliran darah ke orrgan tubuh tetap berjalan dengan baik akan berkurang pada lanjut usia (Nugroho, 2008 : 32).
11.  Sistem Muskuloskeletal
a.       Tulang kehilangan densitas ( cairan) dan semakin rapuh
b.      Persendian membesar dan menjadi kaku
c.       Kekuatan dan stabilitas tulang menurun, terutama vertebra, pergelangan, dan paha. Insiden osteoporosis dan fraktur meningkat
d.      Kifosis
e.       Gerakan pinggang, lutut dan jarijari pergelangan terbatas
f.       Atrofi seranut otot, serabut otot mengecil sehingga gerakan menjadi lamban, otot kram dan kemungkinan tremor
g.      Komposisi otot berubah sepanjan waktu (Nugroho, 2008 : 33)
               Perubahan Mental
Pada aspek psikis lansia perubahan dapat berupa sikap yang semakin egosentrik, mudah curiga, berambah pelit atau tamak. Yang perlu dipahami adalah sikap umum yang ditemukan paa hampir setiap lanjut usia yakni keinginan berumur panjang, tenaanya sedapat mungkin dihemat, mengharapkan tetap diberi peranan dalam masyarakat. (Nugroho, 2008 : 34).

2.           Perubahann psikososial
Nilai sesorang sering diukur melalui produktivitasnya dan identitasnya dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Bila mengalami pensiun, seseorang akan mengalami kehilangan, antara lain :
1.      Kehilangan finansial dan statusnya
2.      Kehilangan pekerjaan atau kegiatannya
3.      Merasakan atau sadar terhadap kematian, perubahan cara hidu
4.      Hilangnya kemampuan dan ketegapan fisik ( perubahan konsep diri)
5.      Timbul kesepian akibat pengasingan dari lingkungan sosial
6.      Kehilangan hubungan dengan teman dan famili (Nugroho, 2008 : 35).
            Perubahan Spiritual
Lanjut usia semakin matur dalam kehidupan keagamaannya. Hal ini terlihat dalam berpikir dan bertindak sehari-hari. Perkembangan spiritual pada lansia dengan usia diatas 70 tahun menurut Folwer (1978) dalam Nugroho (2008), perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah berpikir dan bertindak dengan cara memberi contoh cara mencintai dan keadilan (Nugroho, 2008 : 36).