TIDUR???
Pengertian Tidur
Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar di mana
persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun atau hilang, dan dapat
dibangunkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup (Asmadi, 2008:134).
Tidur adalah suatu keadaan relatif tanpa kesadaran yang penuh ketenangan tanpa
kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing-masing
menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang berbeda (Tarwanto
&Wartonah, 2006 : 100). Tidur dikarakteristikkan dengan aktivitas fisik
yang minimal, tingkat kesadaran yang bervariasi, perubahan proses fisiologis
tubuh daan penurunan respon terhadap stimulus eksternal (Mubarak, 2007: 255).
Fisiologis Tidur
Aktivitas tidur diatur dan dikontrol oleh dua sistem
pada batang otak, yaitu Reticular
Activating System (RAS) dan Bulbar
Synchronizing Region (BSR). RAS yang
terletak di bagian atas batang otak diyakini memiliki sel-sel khusus yang dapat
mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran, memberi stimulasi visual,
pendengaran, nyeri, dan sensori raba serta emosi dan proses berfikir ( Mubarak,
2007: 255).
Pada keadaan sadar mengakibatkan neuron-neuron dalam
RAS melepaskan katekolamin, misalnya norepineprine. Saat tidur mungkin
disebabkan oleh pelepasan serum serotinin dari sel-se spesifik di pons dan
batang otak tengah yaitu Bulbar
Synchronizing Region (BSR). Bangun dan tidurnya seseorang tergantung dari
keseimbangan impuls yang diterima dari pusat otak, reseptor sensori perifer,
misalnya bunyi, stimulus cahaya, dan sistem limbiks seperti emosi. Seseorang
yang mencoba untuk tidur, mereka menutup matanya dan berusaha dalam posisi
rileks. Jika ruangan gelap dan tenang aktivitas RAS menurun, pada saat itu BSR
mengeluarkan serum serotinin (Tarwanto &Wartonah, 2006 : 100).
Tahapan
Tidur
Pada hakekatnya tidur dapat diklasifikasikan ke
dalam dua kategori yaitu tidur dengan gerakan bola mata cepat (Rapid Eye
Movement-REM) atau biasa disebut tidur paradoks, dan tidur dengan gerakan bola
mata lambat (Non-Rapid Eye Movement-NREM) atau disebut dengan tidur geelombang
lambat :
1. Tidur
NREM
Tidur NREM
merupakan tidur yang nyaman dan dalam. Pada tidur NREM gelombang otak lebih
lambat dibandingkan pada orang yang sadar atau tidak tidur. Tanda-tanda tidur
NREM antara lain: mimpi berkurang, keadaan istirahat, tekanan darah turun,
kecepatan pernapasan turun, metabolisme turun, dan gerakan bola mata lambat.
Tidur NREM memiliki empat tahap sebagai berikut :
a. Tahap
1
Tahap I ini
merupakan tahap transisi di mana seseorang beralih dari sadar menjadi tidur.
Pada tahap ini ditandai dengan seseorang cenderung rileks, masih sadar dengan
lingkungannya. Seseorang yang tidur pada tahap I ini dapat dibangunkan dengan
mudah. Normalnya, tahap ini berlangsung beberapa menit dan merupakan 5% dari
total tidur (Mubarak, 2007 : 256).
b. Tahap
II
Individu masuk pada tahap tidur,
namun masih dapat bangun dengan mudah. Otot mulai relaksasi. Normalnya, tahap
ini berlangsung selama 10-20 menit dan merupakan 50%-55% dari total tidur (Mubarak, 2007 : 256).
c. Tahap
III
Merupakan awal dari tahap tidur
nyenyak. Tidur dalam, relaksasi otot menyeluruh dan individu cenderung sulit
dibangunkan. Tahap ini berlangsung selama 15-30 menit dan merupakan 10% dari
total tidur (Mubarak, 2007 : 256).
d. Tahap
IV
Tahap IV merupakan tahap tidur di
mana seseorang berada dalam tahap tidur yang dalam atau delta sleep. Seseorang
menjadi sulit dibangunkan sehingga membutuhkan stimulus. Terjadi perubahan
fisiologis, yakni : EEG gelombang otak melemah, nadi dan pernapasan menurun,
tekanan darah menurun, tonus otot menurun, metabolisme melambat, temperatur
tubuh menurun. Tahap ini merupakan 10%
dari total tidur (Mubarak, 2007 : 256).
2. Tidur
REM
Tidur REM merupakan tidur dalam
kondisi aktif atau paradoksial. Tidur REM ini ditandai dengan :
1. Biasanya
disertai dengan mimpi aktif
2. Lebih
sulit dibangunkan daripada selama tidur nyenyak gelombang lambat
3. Tonus
otot selama tidur nyenyak sangat tertekan, gelombang lambat, proyeksi spinal
atas sistem pengaktivasi retikularis.
4. Frekuensi
jantung dan pernapasan menjadi tidak teratur
5. Pada
otot perifer terjadi beberapa gerakan otot yang tidak teratur
6. Mata
cepat tertutup dan terbuka, nadi cepat dan irregular, tekanan darah meningkat
atau berfluktuasi, sekresi gaster meningkat dan metabolisme meningkat
7. Tidur
ini penting untuk keseimbangan mental, emosi, juga berperan dalam belajar,
memori dan adaptasi ( Hidayat, 2009 : 125).
Gejala-gejala yang terlihat ketika mengalami
kehilangan tidur REM yaitu cenderung hiperaktif, kurang dapat mengendalikan
diri dan emosi, nafsu makan bertambah, bingung, dan curiga (Asmadi, 2008). Tidur
REM biasanya terjadi setiap 90 menit an berlangsung selama 5-30 menit. Selama
tidur REM, otak cenderung aktif dan metabolismenya meningkat hingga 20% (
Mubarak, 2007 : 256).

Gambar 2.1 Siklus Tidur
Sumber : Potter dan Perry 2006
Pola dan Kebutuhan Tidur
a.
Bayi Baru Lahir
Tidur 14-18 jam sehari, 50% tidur NREM, banyak waktu
tidur dilewatkan pada tahap III dan IV tidur NREM, setiap siklus sekitar 40-60
menit.
Pernafasan teratur, gerak tubuh sedikit.
b.
Bayi
Tidur 12-14 jam sehari, 20-30 % tidur REM.
Tidur lebih lama pada malam hari dan punya pola
terbangun sebentar.
c.
Toddler
Tidur sekitar 12-10 jam sehari, 25% tidur REM.
Banyak tidur pada malam hari, terbangun dini hari
berkurang, siklus bangun tidur normal sudah menetap pada umur 2-3 tahun.
d.
Pra Sekolah
Tidur sekitar 11
jam sehari, 20% tidur REM.
Pada umu 5
tahun, tidur siang tidak ada kecuali kebiasaan tidur siang hari.
e.
Usia Sekolah
Tidur sekitar 10
jam sehari, 18,5% tidur REM.
Sisa waktu tidur
relatif konstan.
f.
Remaja
Tidur sekitar
8,5 jam sehari dan 20% tidur REM.
g.
Dewasa Muda
Tidur sekitar
7-9 jam sehari, 20-25% tidur REM, 5-10% tidur tahap I, 50% tidur tahap II, dan
10-20% tidur tahap II-IV.
h.
Dewasa Pertengahan
Tidur sekitar 7
jam sehari, 20% tidur REM.
Mungkin mengalami
insomnia dan sulit untuk dapat tidur.
i.
Dewasa Tua
Tidur sekitar 6
jam sehari, 20-25% tidur REM, tidur tahap IV nya berkurang kadang-kadang tidak ada.
Mungkin
mnegalaami insomnia dan sering terbangun sewaktu tidur malam hari ( Asmadi,
2008 : 137-138).
Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Tidur
Pemenuhan kebutuhan
tidur pada setiap orang akan berbeda-beda. Terpenuhinya kebutuhan tidur
seseorang dilihat dari kuantitas dan kualitas tidur. Menurut Mubarak 2007, banyak
faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas tidur seseorang :
1.
Penyakit
Seseorang yang
memiliki status kesehatan yang tidak baik misalnya : nyeri atau disttres fisik
bisa menyebabkan gangguan tidur. Seseorang yang skit membutuhkan waktu untuk
tidur yang lebih banyak daripada biasanya. Disamping itu, siklus bangun tidur
selama sakit juga bisa mengalami gangguan ( Mubarak, 2007 : 257).
2.
Lingkungan
Faktor
lingkungan memiliki dampak memepermudah tidur atau mempersulit tidur. Sebagai
contoh yag tidak nyaman atau ventiasi yang buruk dapat mempengaruhi tidur
seseorang. Lingkungan yang bising ribut dan gaduh akan menghambat seseorang
untuk tidur ( Mubarak, 2007 : 257).
3.
Kelelahan
Kondisi tubuh
yang lelah akibat aktivitas fisik ataupun aktivitas yang lain dapat
mempengaruhi pola tidur seseorang. Semakin lelah sesorang, semakin pendek
siklus REM yang dilaluinya. Setelah beristirahat biasanya siklus REM akan
kembali memanjang ( Mubarak, 2007 : 257).
4.
Gaya Hidup
Seseorang yang
sering berganti jam kerja harus mengatur aktivitasnya agar bisa tidur pada
waktu yang tepat ( Mubarak, 2007 : 258).
5.
Nutrisi
Terpenuhinya
kebutuhan nutrisi yang cukup dapat mempercepat proses tidur. Protein yang
tinggi dapat mempercepat terjadinya proses tidur, karena adanya triptofan yang
merupakan asam amino dari protein yang dicerna ( Hidayat, 2009:128).
6.
Stress Emosional
Ansietas dan
depresi sering kali mengganggu tidur sesorang. Sebab pada seseorang yang berada
pada kondisi ansietas kadar norepinefrin darah akan meningkat melalui stimulasi
sistem saraf simpatis. Kondisi ini akan menyebabkan siklus tidur NREM tahap IV
dan tidur REM akan berkurang dan akan sering terjaga ( Mubarak, 2007 : 258).
7.
Stimulan dan alkohol
Seseorang yang
mengkonsumsi alkohol, sikls tidur REM akan terganggu. Minuman yang mengandung
kafein akan merangsang SSP sehingga dapat mengganggu pola tidur ( Mubarak, 2007
: 258).
8.
Diet
Penurunan berta
badan dikaitkan dengan penurunan waktu tidur dan seringnya terjaga di malam
hari. Sebaliknya, penambahan berat badan dikaitkan dengan peningkatan total
tdur dan sedikitnya periode terjaga di malam hari ( Mubarak, 2007 : 258).
9.
Merokok
Nikotin yang
terkansung didalam rokok memiliki efek stimulan pada tubuh. Akibatnya perokok
sering kali kesulitan tidur dan mudah terbangun di malam hari ( Mubarak, 2007 :
259).
10.
Medikasi
Obat-obatan
tertentu dpat mempengaruhi kualitas tidur seseorang. Misalnya obat jenis
amfetamn akan menurunkan tidur REM. Hipotik dapat mengganggu tahap II dan IV
tidur NREM sedangkan obat-obatan jenis narkotik dapat menekan tidur REM dan
menyebabkan sering terjaga di malam hari ( Mubarak, 2007 : 259).
11.
Motivasi
Keinginan untuk
tetap terjaga terkadang dapat menutupi perasaan lelah seseorang. Sebaliknya
perasaan bosan atau tidak adanya motivasi untuk terjaga seringkali dapat
mendatangkan kantuk ( Mubarak, 2007 : 259).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar